HARD TO SAY I’M SORRY By Nino Begitu terdengar intro lagu itu ingatanku langsung pulang ke pertengahan tahun 80an, benakku mulai terseret mundur pada seraut wajah yang hampir terlupakan..Sita! ya nama itu sempat bersemayam lama dalam hatiku, merentangkan rindu yang panjang, membawa angan jauh melayang bersama helai rambut lurusnya yang panjang dan tatapan mata yang sungguh mengoda, dimanakah dia sekarang? Sita Damayanti Siregar…aku masih ingat nama lengkapmu, gadis badung yang cantik, sedikit tomboi dan sangat menawan…
( gending-gending serta tarian jawa yang mengalun beriring dengan gemulai sang penari merambah sore berwarna kuning keemasan..di setiap jalan dan koridor Malioboro, aku ingat betul sore itu aku menelusuri jalan itu sendiri, membawa bayang wajahmu yang cantik, kukantongi semua asa yang tak terungkap, dan rasa yang tak tersentuh oleh jemarimu…)
Malam ini,setelah sekian lama aku tinggalkan Kota yang mempertemukan aku dengannya dulu membawaku kembali, untungnya aku mendapat tugas ini, setidaknya disela kesibukanku aku bisa sedikit meluangkan waktu mencari jejak yang sempat terukir di sini. Jogja ternyata sudah sangat jauh berbeda, aku hampir saja tidak mengenali wajahnya. Sekian waktu ternyata kota ini sudah dewasa, cantik namun terkesan genit, tidak seperti waktu dimasa dulu, jogja dulu terlihat cantik feminim, teduh membuat aku sulit untuk meninggalkannya, terlebih lagi satu nama telah terkubur di hatiku.
( ketika malam menjelang, aku kembali menelusuri Malioboro, masih ramai oleh lalu lalang orang, sehabis meeting tadi sore, aku cepat-cepat kembali ke Hotel karena tidak ingin sedikitpun melewatkan malam yang indah di sepanjang malioboro. Aku ingin membuka dan menulis kembali sejarah saat bertemu denganmu.. betapa bodohnya aku dulu, menyimpan rasa padamu, dan hanya berani memandang kecantikanmu dari jauh, menaruh sesobek puisi di jok motormu dan mengawasinya dari jendela kelas saat engkau heran mendapatkan puisiku diatas jok sepeda motormu…hehehe..maafkan aku Sita..sungguh aku tidak berani waktu itu…)
“ Adit, aku bisa minta tolong gak?” Sita mendekatiku dengan senyum yang selalu mampu meruntuhkan dinding keberanianku. “ Eh..ya Sit, tolong apa ya?”. Kataku senang ( kamu tau saat itu aku sungguh-sungguh bahagia ) “ titip salam buat Helmy ya..” Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak, sungguh tak aku sangka Sita menyukai Helmy sahabat karibku? “ eh..iya..ya nanti aku sampein, dia juga pernah tanya soal kamu” kataku berbohong. Dasar bodoh, kenapa aku harus berbohong? Apa karena aku tak kuasa menolak permintaanmu dan sangat ingin membuatmu bahagia…
( sejak engkau dekat dengan Helmy , bathinku makin teriris Sita, tak mengertikah engkau? Rasa cemburu yang bergejolak, manakala engkau dan helmy mesra bercengkrama di kantin sekolah?, tak aku pungkiri memang, Helmy lebih segalanya, siapa yang tak suka dengan ketampanan dan juga gaya hidupnya?, sementara aku hanyalah orang biasa dengan kamar kos yang biasa pula..)
yang lebih menyakitkan kenapa kita harus selalu menghabiskan waktu bertiga? Berat bagiku menyimpan semua itu, seperti waktu tak memberi kesempatan aku untuk melupakanmu dan pergi dari kehidupan kalian, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku juga tak ingin dengan kepergianku diantara kalian menimbulkan sebuah pernyataan… ***
Jam 21.30 aku masih menikmati kesendirianku dimalioboro, kembang trotoar perlahan menutup diri, meninggalkan keramaian, menyambut sepi dibawah payung mercuri, sejenak aku berhenti didepan museum, dan menggambarkan wajah Sita dan Helmy sahabatku, pasti mereka sudah bahagia sekarang.. kuusap bibirku dengan tangan lalu tertunduk pelan, kemudian kembali berjalan menuju Alun-alun… tepat di perempatan jalan, tak sengaja mataku menangkap sosok yang tidak begitu asing, penampilannya, bahkan rambutnya..tanpa ragu aku ikuti sosok itu dari belakang, langkahku makin ku percepat agar dapat menyusulnya. Begitu dekat akupun memanggil namanya. “ Sita!” kataku setengah berteriak. Wanita yang aku panggil itu tak menoleh,bahkan mempercepat langkahnya. Aku begitu yakin dia itu Sita, tidak mungkin aku salah…ah ternyata dia masih di kota ini, kabar terakhir yang aku tau dia kembali ke jakarta setelah selesai sekolah dulu, benar gak sih itu sita?
Bersambung
( Sorry lagi Bad mood ceritanya kepotong dulu…tar dilanjutin, oya menurut kalian wanita itu baiknya Sita atau bukan ya ? )
CINTA SATU WARNA By Nino Derap kaki sang waktu berjalan menuju cahaya timur, mencoba meredam kebisuan yang bergelantung di awan yang sepi sendiri, bertautlah hati mencoba meluluhkan sinaran yang terpendar ketika senja beranjak naik… luka itu masih sama, berbekas dan tetap membekas.. tak ada kata cinta kini, yang tertinggal hanya gambarnya melayang tersapu angin, terbang tinggi menghampiri hujan yang kemudian turun perlahan, membasahi jiwanya yang kering…
( menanti harapan yang terhalang pagar halaman, mencabit rumput basah dan menikmati aromanya sendiri, meraba usapan jemari yang menempel di kedua pipi, terpejam dan meresapi setiap aliran nafasnya )
Gundahlah ia, duduk diatas gundukan tanah, melemparkan mata sejauh memandang, masih saja terlihat sepi, hilangkah rasa ini? Sungguh ia merasa semuanya tak ada artinya lagi, amarah,dendam tercampur dalam benih kebencian akan sebuah penghianatan, menusuk lukanya yang paling dalam, perih tak tertahan… Cintanya benar-benar telah mati..
( entah kenapa,setiap kali benang terajut indah selalu putus tanpa sebab, meninggalkan sulaman yang tak selesai, bukan sekali ini saja ia mengalami getirnya cinta, sudah puluhan kali, kadang ia mengutuk diri, inikah karma? Kenapa harus terjadi berkali-kali? )
dan kini, ia terjerambab pada sebuah permainan, permainan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, karena dendamkah?entahlah hanya saja ia sungguh sangat menikmati permainan yang tak lazim ini.
( sebuah jemari lentik menyentuh ulu hatinya, mengusap asanya menjadi basah, menaburi seluruh dahaganya dengan madu bercandu cumbu rayu, tenggelamlah ia dalam kegamangan, tanpa sadar ia telah terseret jauh dalam permainan gila itu )
bulan telah lelah bermain, hawa dingin semakin merajang tulang, disulutnya sebatang rokok, dan menghembuskan asapnya keras, agar terlampiaskan dendam yang terbenam dalam otaknya.. “ maafkan aku Rima…aku telah menghianatimu” ucapan laki-laki yang dicintainya dulu itu masih sangat jelas terekam dalam memory otaknya. Membawanya pada kebencian yang tak berkesudahan, hingga ia mengambil keputusan untuk tidak lagi mengenal laki-laki. Hampir semua laki-laki bertabiat sama, suka enaknya saja. Dasar!! Sumpah serapahnya memecah sepi hatinya.
Dalam kekiniannya, ia telah menemukan cinta yang lain, walau ia tau cinta itu semu dan takkan mungkin bersatu, namun entah kenapa ia sangat menikmati semuanya, sentuhan dan belaian,juga dekapan yang sungguh beda…terperangkapkah ia? Masa bodoh! Begitu umpatnya tanpa penyesalan. Setidaknya aku merasakan kasih yang nyaris sempurna dari seorang Dewi kekasih sesama jenisnya, ketimbang pelukan kepalsuan laki-laki penghianat itu.
“ Rima sayang..kamu belum tidur?” tanya Dewi dalam selimut hangatnya, Rima menoleh kemudian menghembuskan asap rokok dengan pelan, menggeleng dan melemparkan padangannya ke balik kaca jendela dengan gamang….
Pandaan 4 juli 2008
CINTA YANG TERSEMBUNYI By Nino Monik mempercepat langkah kakinya melewati lorong koridor sebuah stasiun kereta yang sudah mulai sepi, malam baru beranjak setengah bayang bulan, wajah Juan jelas tergambar dalam benaknya malam ini, apa dia baik-baik saja? Menerawanglah pikiran Monik kepada tubuh yang sudah tidak perkasa lagi itu, Juan laki-laki yang sudah menemani hidupnya 11 tahun dan telah memberikannya 2 orang anak yang sangat dicintainya. Nafasnya mulai terdengar tak beraturan, mungkin karena perasaan kalut, konsentrasi monik tidak begitu fokus saat mengendarai mobilnya yang terparkir hampir 3 hari di stasiun kereta. Apa ini sebuah kecemasan yang berlebihan? Rasa kawatir dengan laki-lakinya tersebut? Ataukah rasa Rindu yang terrtangkup setelah beberapa hari tidak bertemu? Rasanya tidak! Ini sebuah kecemasan, sungguh! Lebur dengan perasaan bersalah. Entahlah.
( rindang pohon anggur dan setaman kembang mawar putih yang tersiram matahari pagi,terasa tak sempurna,karena semilir angin dan setetes embun sisa semalam telah lama pergi, keceriaan makin terbenam di ufuk senja, tak teraih bergulir kehampaan hati yang lama tak tersentuh oleh cinta yang membara, kecupan hangat di kala jamahan hujan berebut turun membasahi tanah yang berumput, telah lama kering, terbakar. Hampa..kini semakin hampa saja )
Perlahan sekali Monik membuka pintu mobil dan berjalan menuju rumah, degup jantung kian menggempur dadanya, bibir tergigit keluh,seperti tak mampu bicara, diam sejenak di pintu merapikan Sal yang tergantung dileher dan membenahi mantelnya. Kemudian perlahan memasukkan kunci pintu lalu memutarnya sangat perlahan. Setelah terbuka dia masuk dengan hati-hati takut kedatangannya diketahui seisi rumah. Setelah melalui ruang tamu, Monik menapaki tangga menuju kamar Moza dan Airin buah hatinya. Satu persatu kamar anaknya tersebut dimasukinya dengan sangat hati-hati, tertegunlah ia ketika melihat Airin si bungsu buah hatinyaitu terlelap sambil mendekap boneka. Lalu dia membungkukkan badan mendaratkan sebuah kecupan sayang di kening putrinya. Beberapa menit kemudian diapun segera berlalu meninggalkan kamar Airin, menuju kamar utama dimana Juan sudah menanti kedatangannya.
( tarikan senyum yang lain kembali menggelitik pikirannya malam ini, pelukan yang lembut telah merebut hatinya tuk tenggelam menari bersama bayang yang lain itu , bukan bayang Juan sang kekasih hati, tapi masihkah Dia mengakui kekasih untuk laki-laki yang telah menikahinya itu? Bila perasaaan sudah terpagut dengan kecupan yang lain? Walau suaminya tersebut sudah kehilangan segalanya? Kemampuannya? Perasaaan wanita tersebut kembali berkecamuk penyesalan bercampur rasa bersalah telah meninggalkan suaminya jauh tertinggal sendiri, hanya untuk sebuah senyum yang telah menorehkan hati membekas begitu dalam, dan hanyut dalam belaiannya cinta semunya? Ah entahlah )
“ terima kasih sayang untuk waktu yang indah ini” Monik menatap lekat mata yang ada dihadapannya, ditariknya nafas,kemudian menghembuskannya dengan terbata-bata,diam tanpa bicara. Kemudian melepaskan genggaman tangan sosok dihadapannya itu. “ Am, ini sebuah kekeliruan, aku tak sanggup lagi” perlahan kata-kata itu keluar dari bibirnya, Monik lalu berpaling kearah lain, sinar mercuri ditaman itu remang menutupi resahnya. “ kenapa Mon? aku mencintaimu sejak di SMA dulu? Kamu juga begitu kan?” laki-laki tersebut berusaha mendekat dan hendak merangkul bahu monik, namun kali ini Monik melepaskannya. “ aku sudah punya Juan Am?,Moza dan Airin, aku tak sanggup menghianati mereka?” jawab Monik sambil membalikkan tubuhnya kearah Am,laki-laki yang pernah dicintainya sejak SMA dulu. ” Tapi Juan sudah tak mampu membahagiakanmu lagi Monik? Juan tidak lebih dari raga tanpa jiwa, dia sudah tidak mampu membahagiakanmu lahir bathin?” ” jangan bicara seperti itu Am, bagaimanapun keadaaannya Dia masih suamiku!” “ Ayolah Mon, kamu tau aku sangat mencintaimu, lupakan saja suamimu yang kena Stroke itu!” desak Am lagi. Kali ini Monik benar-benar marah,matanya merah meradang,menghujam tajam pada sosok dihadapannya tersebut. “ terlalu kamu Am.., ini terakhir kali kita bertemu,dan jangan coba masuk kedalam kehidupanku lagi” setelah berkata demikian Monik berlalu, mencegat taksi menuju Stasiun kereta.
( remang akan redupnya cahaya cinta,membutakan dan meretakkan guci kesetiaan yang tersimpan direlung hati, seperti melupakan kenangan indah yang telah tercipta dihamparan awan berselimut kasih, luruh dan tergerus pada penyesalan tak berujung, diamlah dia akhirnya )
Begitu kamar terbuka, Monik mendapati Juan tengah duduk di kursi roda menghadap Laptopnya,menoleh dan terseyum lebar, Monik segera berhambur dan memeluk laki-laki yang dicintainya itu penuh kasih.
“ wow..mama kok gini? Kangen sama papa ya?” seloroh suaminya. Monik tidak menjawab dengan kata diciuminya kedua pipi Juan sang suami. “Iya Mama kangen banget sama Papa, maafkan Mama ya pa, yang tidak punya banyak waktu untuk papa dan anak-anak!” bisik Monik ketelinga Juan. “ gak apa-apa, papa yang jaga anak-anak, kan Cuma itu yang bisa papa lakukan sekarang,” jawab suaminya menarik wajah Monik lebih dekat dan mencium bibirnya mesra. “ gimana pa..Novel papa sudah selesai?” “ tinggal endingnya ma, coba deh mama baca kira-kira bagus tidak kalo endingnya seperti ini” kata Juan lagi.
Dengan sangat perlahan Monik membaca tulisan di monitor komputer, gemuruh dadanya kembali menjadi gempuran ombak besar seakan menghantam karang.
( kemuning berlari meninggalkan kisah tak terungkapnya dan membuang hayalan yang belum terwujud, kembali memunguti serpihan-serpihan cinta yang telah ia buang satu persatu di jalan yang menjadi kenangannya bersama laki-laki yang dicintainya dimasa lalu , untuk pulang kedalam dekapan Bimo sang suami yang selalu menunggu di jalan kenangan kapan saja kemuning Pulang dengan membawa sepotong cinta yang telah dibuangnya dulu…- SELESAI- )
Monik kembali memeluk Juan dengan hangat,tersenyum miris, Maafkan Mama ya pa…bisik hatinya bersalah. Apa yang engkau tulis itu yang telah terjadi sekarang, namun semuanya sudah berakhir, dan aku ingin menumpahkan segenap cinta kasihku untukmu sayang, aku tak perduli engkau sudah tidak memberiku kebahagiaan sebagai suami, aku hanya ingin berbagi suka duka bersamamu dan anak-anak kita. Kemudian menatap lekat wajah suaminya itu. “ Papa mau kopi?” tawarnya. “ Mama buatkan untuk papa yaa…!” Monik segera beranjak sebelum dijawab suaminya. Ia ingin menebus semua kesalahannya selama ini…biarlah kekeliruan itu menjadi rahasia bagi dirinya..
pandaan 3 Juli 2008
BIDADARI ITU TLAH PERGI By Nino Dia terpaku sendiri di sudut jendela kamar, memandang dengan mata menerawang, sesekali dia tersenyum entah pada siapa, padahal disana hanya dia sendiri.begitupun di luar jendela kamar tidak ada siapa-siapa hanya gemerisik angin beradu dengan batang pohon bambu kuning dan lambaian daun pohon mangga. Mungkinkah engkau sedang membayangkan kebahagiaan yang tak teraih diatas penderitaanmu selama ini? Sungguh aku sangat mengasihimu, engkau bagian dari hidupku yang bersemayam abadi, aku melihatmu selalu seperti bidadari.
( bintang dilangit selalu bersinar tidak sempurna membelah malam, ada kebisuan dengan berjuta tanya, ada kesedihan diatas jelaga mengembang menjadi sebuah penyesalan, merogoh kantung kebahagiaan yang kerap datang namun tak pernah teraih oleh harapan-harapan yang ada dalam mata beningmu, meradanglah sudah kepedihan itu mengalir bersama air mata penyesalan bunda )
aku tau engkau memang berbeda dengan mereka, meskipun kehadiranmu di tengah mereka sering membuat kemarahan, namun tetap saja engkau berhasil mengundang iba mereka tuk kembali memelukmu dan memanjakanmu dengan segala warna cinta. Dan aku salah satu dari mereka itu, ya aku! Aku yang selalu mengintip setiap gerak-gerikmu kemana saja kakimu melangkah aku selalu mengawasimu dengan penuh kasih.
Utet sayang, aku dapat merasakan kesepian hatimu dari dunia luar, sejak engkau hadir di dunia ini, ibu tak pernah melepaskanmu pergi sendiri, bahkan melarangmu untuk pergi jauh. Ah..betapa nestapanya hatimu aku tau itu, maafkan aku yang tak bisa berbuat sesuatu untukmu, namun percayalah apa yang ibu dan mereka lakukan itu yang terbaik untukmu, engkau jangan marah ya.. ( bibirnya tak pernah lepas dari senyum, tatapan mata yang tak sempurna membuat engkau selalu mengerdipkan kelopakmu, jemari tangan yang tak pernah diam mengelus rambut panjangmu, duduk di sisi tempat tidur memandang keluar jendela dan tersenyum sendiri )
“ Utet…tengok aku bawa apa?” kataku sambil memperlihatkan buku cerita bergambar, dia pun mengerdipkan mata kemudian mendekat dan meraih buku dari tanganku,lalu menatap lebih dekat. “ ini buku apa?” tanyanya. “ ini buku cerita bergambar Utet…ini untuk Utet!” jawabku tersenyum, bibirnya langsung berseringai. “ epi yang beli ya?” dia selalu menyebut namaku. “iya Utet, biar Utet gak bosen dirumah terus,nanti aku yang ceritakan untukmu yah!”. “ bener..ya epi mau cerita untuk Utet?, jangan bohong!” katanya gembira, matanya selalu meleset melihat kearahku, bukan karena matanya tidak sepadan, hanya saja dia tidak dapat melihat dengan jelas.
30 tahun sudah berlalu, engkau masih tinggal dirumah yang sama,sementara kakak dan adik-adikmu sudah pindah kerumah mereka masing-masing, kini hanya tinggal dirimu dan Ibu, ibu yang semakin tua namun tak pernah lelah mengurus segala keperluanmu.
“ pi, gimana rasanya kalo jatuh cinta?” tanyanya suatu hari saat kami sedang duduk dibawah pohon jambu di depan rumah sambil memandang lalu lalang kendaraan yang lewat. “ kenapa? Utet lagi jatuh cinta?” tanyaku tanpa bermaksud menyinggung perasaannya. “ dak tau..!” tawanya yang lepas semakin membuat kelopak matanya menyempit.
( Ah Utet, bila benar engkau jatuh cinta, aku sangat bersyukur, sudah 30 tahun engkau dalam kesendirian, bermain dengan boneka, berjalan mengitari kebun , duduk diam di sisi jendela, semuanya bermandikan kesendirian yang menyayat hati, aku senang waktu engkau menanyakan soal itu padaku,namun sedetik kemudian kegamangan segera menyerang pikiranku, maukah ia menerimamu utuh? )
ternyata benar,cinta yang engkau damba ternyata tak pernah ada, engkaupun tak menyalahkan mereka,atau ibu atau kuasa Allah yang telah menciptakanmu lahir dengan tidak sempurna, engkau tersenyum pasrah, Ah Utet, jangan menangis sayang, kasih sayangku takkan berkurang sedikitpun bahkan bertambah dari waktu ke waktu, aku bersamamu..
( seminggu yang lalu aku mendapat kabar kalau engkau telah berpulang, meningitis telah merebutmu, akupun menangis dengan kepergianmu dan menyesali tidak berada di sisimu untuk terakhir kali..pulanglah dengan damai sepupuku terkasih, Tuhan ternyata lebih sayang kepadamu, engkau yang lahir penuh derita, kehidupanmu sudah tak sepi lagi, Tuhan akan menjagamu selamanya…dimataNya engkau terlahir sempurna bukan terlahir sebagai gadis yang cacat mental, selamat jalan Utet, tenanglah di negeri keabadian sejati )
Pandaan 1 juli 2008
 | BUNGALOW | Jun 30, '08 3:44 AM for everyone |
 BUNGALOW By Nino Berjuntailah daun begitu smilir angin berhembus lembut disela ranting lamtorogung, seperti membisikkan rasa “ cumbuilah aku wahai sang kelana sebelum seluruh daunku mengering terbakar waktu, susut dan gugur begitu musim semi tiba” bisikkan yang sangat lembut dan memerahkan wajah sang kelana, sejurus kemudian diraihnya ujung terjuntai itu lalu menciumnya perlahan, laksana pangeran yang bersimpuh dan mencium sang putri. Aku yang diam mematung dan mencoba menerjemahkan dengan alam pikiranku mulai terusik begitu sang kelana menguraikan rambutku, aku takkan beringsuk kelana, aku akan tetap disini melihatmu bercumbu dengan daun cinta, bisikku padanya seraya menarik dan mengumpulkan helaian rambut yang diuraikan olehnya.
( sepi yang terampas menyesakkan dada, tirai biru perlahan terbuka melambai lemah masih berkawan sepi yang kosong, hening, begitu rembulan mencapai puncaknya )
Aku tertawa Renyah dengan sikap manja, bergelantung dibahu kirimu, mendekatkan bibir lebih dekat ke telingamu dan membisikkan kata nyaris tak terdengar, dan aku senang ketika engkau lari penasaran mengejar kakiku yang lebih dulu meninggalkanmu. Semuanya nyaris sempurna..tidak ada lagi sisa keraguan yang sempat tertanam setahun lalu di ladang rindu, semuanya berjalan sangat sempurna.
( Sukmaku telah memenjarakanmu sayang, dan aku tak ingin garis bibirmu terlepas dari ingatanku, tetaplah membentuk senyum yang selalu kudamba, kurindukan saat-saat sang kelana merayu juntaian daun, aku ingin engkau seperti itu, utuh hanya untukku )
Kini, musim hujan telah membasahi waktu kita, membasuh cinta yang tak lagi lara,dan aku masih menginginkanmu untuk makan malam di meja makan yang sepi, hanya kita berdua tidak ada yang lain, aku juga ingin engkau duduk dihadapanku bukan disebelahku seperti yang sudah-sudah dulu… akankah engkau datang malam ini?
Bungalow itu sepi sepeninggalan engkau…kasih… Bungalow cinta kita… From me with Love Rika
( Klik…aku tutup Email yang baru saja aku baca dari Tante Rika, dan termangu sejenak,jemari telunjukku mengetuk-ngetuk meja tanpa irama, kisah lama kembali membayangiku, menelanjangi semesta pikiranku akan dirinya yang telah lama berpisah, haruskah aku datang?) pandaan 30 juni 2008
MEREKA DI JALANAN By Nino Rentang waktu yang berjalan terasa lambat, tabir cerita lama terbuka dari genggaman kemudian terhempas diatas hamparan pasir hitam. Resahnya sudah tak berarti, dari waktu ke waktu Pak Karto melenggang dengan sepatu boot karet, berusaha melepaskan drajat dan kasta yang menjerat tatanan kehidupannya.
( Nirwana nampaknya semakin jauh darimu, apa ini memang takdirmu yang tertulis di daun waru? Hamparan sabana dan beningnya oase hanya permainan imajinasi yang kerap kali mengakali pikiranmu melambungkan angan-angan, tidak ada tidur malam yang indah, tidak ada nikmatnya semangkuk kuah sup kacang merah dipiringmu yang kosong, ah hari semakin sepi saja )
Pagi buta Pak Karto berangkat, meninggalkan sepinya rumah kontrakan,menelusuri sepanjang cahaya mercuri dengan sapumu, mengibas debu jalanan yang sepi setelah berhambur dengan deru mesin bak lenguh lembu yang tak berhenti menyeret lebih dalam.
Ada beberapa teman yang selalu menyertai kehidupanya di pagi buta,mereka yang sama berjuang , mengentaskan rasa lapar saja tanpa berharap lebih dari itu, karena imbalan yang engkau terima sangat kontras dengan gaya hidup metropolitan tercinta.. Timpangkah? Ah..hanya nurani manusia bijaklah yang bisa merasakan nasibnya. “ setidaknya kita masih sedikit beruntung dibanding dia?” katanya sambil menunjuk laki-laki tua yang tergolek di trotoar dengan tubuh miring dan kedua kaki mendekap tangannya yang termakan dingin.sosok gelandangan itu tengah berusaha lelap meraih impiannya yang terbawa angin malam. “ hanya sedikit beruntung kan?” jawab temannya. “ kenapa? Tidakkah itu nikmat yang luar biasa?” . “ lalu bagaimanakah dengan bapak tua yang tergolek itu?kapan dia juga bisa sedikit beruntung seperti kita?” tanya temannya lagi. “ Ya..nasib kadang berkata lain mad?” jawab pak Karto kepada mamad teman sesama penyapu jalan. “ iya pak, sopo sih seng ngerti nasib pe uwong?” jawab mamad dengan bahasa jawanya. “ termasuk nasib kita yang gajinya selalu ikut tersapu..hehehehe” dia terkekeh di ikuti mamad.
Adakah pilihan yang lebih baik dari itu? Bila mereka harus dihadapkan dengan kenyataan hidup sebagai orang tak mampu?rasanya dibutuhkan seribu kuda untuk melampaui garis kemiskinan itu. Namun apakah mungkin? Meski harapan selalu menyala di hati mereka,membakar semangat untuk terus meninju rasa lapar tanpa lelah tapi tetap saja mereka menikmati menu makanan tahu dan tempe setiap harinya. tidak ada yang ingin msikin, siapapun dia tentunya mereka ingin hidup lebih baik, lalu bagaimanakah dengan pak Karto sendiri? “ bapak ya…berusaha sabar dan tetap berusaha meskipun kehidupan keluarga bapak belum berubah” jawabnya suatu ketika disebuah warung kedai kopi pinggir jalan selepas dia melakukan pekerjaannya. “ iya pak..kudu mensyukuri ya pak?” kata Danu, tukang koran yang selalu dia temui dikedai kopi. Pikiran Danu menerawang mencoba membelah pikiran dan menggambarkan kehidupan pak Karto dan dirinya.
“ ya…kalo Gusti Allah berkendak begitu,ya mau apa?” sambungnya lagi, sambil mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku baju kemudian menyalakan batang korek api dan menyulutnya.
( Ranting-ranting kering itu kian kokoh saja tertiup angin, tidak patah, musim kering yang menyengat akar pohon seakan tidak mampu merobohkan dahan-dahan kehidupan sederhananya ) Separuh hidupnya telah dia habiskan dijalan, dengan setia menyapu sepanjang aspal jalan bahkan lorong kehidupan, dengan tarikan nafas ikhlas, dan senyuman lapang dada dia mencoba menutupi lubang hidupnya dengan irama yang tetap sama. Pak Karto masih bisa tersenyum bangga,walau gaji sebulan hanya cukup untuk perut. Namun tidak pernah memupuskan kebahagiaan dia dan keluarga dalam menikmati apa yang telah diberikan kepadanya. Walau deraan nestapa kadang menguliti hari-harinya dengan cobaan yang melanda,mampukah ia bertahan?
“ kenapa pak? hari ini bapak tidak seperti biasanya?” kata Danu sambil menyodorkan kopi yang dia pesan kearah pak Karto, Pak Karto termangu diam. “ si udin anak bapak ditabrak sama orang” jawabnya. ”masya Allah?? Terus anak bapak gimana? Si penabrak bertanggung jawab?” kata Danu kaget. “ kakinya patah, penabraknya lari..” jawabnya sedih. Danu diam, miris mendengar ceritanya. “ yang sabar pak..!” katanya menghibur.. “ iya bapak berusaha sabar,…tapi bapak tidak punya uang untuk si Udin, ditambah lagi si Ina minta buku dan baju baru..” kali ini Pak Karto tidak kuasa menahan tangisnya. Orang-orang yang berada dikedai itu spontan melihatnya. “ bener-bener gak beradab si penabrak itu!” sumpah Pak Mo pemilik kedai. “ masih ada saja manusia yang tega menari diatas penderitaan orang” sambung yang lain. “ sudah pak..tenangkan hati..” bujuk Danu pelan. “ bapak gak bisa tenang nak…bapak harus bagaimana? Bapak tidak punya simpanan uang?” Danu menghela nafas dan memandang orang-orang yang mengerubunginya. " bapak ndak berani pinjam uang,takut gak bisa mengembalikannya" “ adakah yang bisa menolong pak Karto?” tanya Danu kepada mereka, mereka diam saling pandang, lalu salah satu diantara mereka mengeluarkan selembar uang 50 ribuan,dan menaruh diatas meja. “ saya ndak punya banyak mas..Cuma ini”katanya prihatin, Danu tersenyum dan tersentuh, dia pun mengambil uang yang ia punya dan menambahkannya. Kemudian semuanya melakukan hal yang sama.walau jumlahnya tidak banyak namun cukup meringankan beban yang sedang diderita pak Karto, Danu penjual koran yang hanya kenal Pak karto di kedai Kopi itu terharu, melihat kasih diantara sesama masih begitu kuat. “ terimalah ini pak…kami memang bukan siapa-siapa tapi kami ingin membantu meringankan penderitaan bapak..” kata salah satu diantaranya. Danu mengangguk menyakinkan pak Karto.Mereka memang orang jalanan tapi setidaknya mereka masih punya hati nurani untuk berbagi dengan sesama.
Pandaan 28 Juni 2008
SEPUCUK SURAT UNTUK KINANTI By Nino Bayangan wajah itu kembali menyeruak ketika dia meniti kesendiriannya disaat purnama bermain dengan lentera bintang yang redup berkelip, sebuah wajah yang tak akan terlupa, memantul diatas telaga bening, berkecipak dengan dinginnya angin yang melukai tulangnya. dia masih memikirkan dirimu Kinanti..
( dia tau,betapa sepinya engkau dengan hari-harimu disana, menelanjangi hari dengan seribu kerinduan tanpa terobati, kemilau senjapun tak jua meredakan sunyinya ruang hatimu disana dia tau itu, dan dia berharap engkau sabar menjalani kehidupan yang sepi disana bila hatimu merasa sendiri..)
Kinanti dia memikirkanmu disini,begitu temaram malam menjajaki kakinya di setiap detik, dia memikirkanmu? Ah..betapa kawatirnya dia akan dirimu kinanti Meski jauh jarak membelah samudra hatinya ada padamu, dia akan terus memikirkan dirimu disana, apakah engkau baik saja? Selalu begitu tanya hatinya..
( bila saja riuhnya getaran daun mengerti betapa indah bingkai hidupmu, sehingga tak seharusnya engkau membiarkan dirinya terlena dengan rasa kawatir yang telah menganga dalam setiap detak nadi dan langkahnya…)
Kinanti…betapa galau hatinya begitu engkau mengabarkan bahwa sakitmu merejang dirimu saat ini, dia kembali menelaah dan meraba sakit yang engkau rasa, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia sangat mencemaskan keadaanmu disana. Dengan sangat perlahan jemari tangannya menulis kata demi kata merankai setaman bunga diatas kertas bertinta cemas dan kerinduan yang mendalam
“ Kinanti, sungguh kabarmu telah membelah kekawatiranku bertambah sayang, seharusnya engkau tidak nakal, jangan bandel, lihatlah engkau kembali sakit kan? Aku tau sakit itu akan engkau bawa menggrogoti semangatmu dan menghujam asamu hingga kering… Sayang, jangan biarkan itu terjadi, tidakkah engkau rindu padaku disini? Tidakkah engkau ingin menatapku dan menghabiskan waktu bersamaku disini? Kinanti sayang.. aku cemas dengan keadaanmu disana..meskipun engkau katakan tidak ada apa-apa tapi aku selalu mengkhawatirkan keadaanmu.. Sayangku Kinanti…aku tlah katakan pada bulan, tolong jangan biarkan gadisku tenggelam dalam ketakberdayaan, aku telah sampaikan kepada bayu untuk selalu mengirim rinduku padamu.. Kinantiku…seberat apapun derita yang engkau bawa, aku ingin memanggulnya bersamamu..”
( Ah..Kinanti andai saja Engkau tau bila dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu, dia gelisah sekarang…menunggu pagi berharap engkau menyapanya begitu matahari mulai menari saat pagi. Jangan kecewakan dia Kinanti, dia yang berharap engkau mampu menghadapi segala derita disana..bersama kasih sayangnya yang telah ia tanam dalam sanubarimu…)
Harapannya selalu tergantung diawan, dia sematkan disela dahan kehidupan untuk keadaanmu,untuk segala penderitaanmu, Dia selalu berharap bila waktunya nanti engkau meraih kebahagiaanmu yang sejati…
Pandaan 24 Juni 2008
BIARKAN HATI YANG BICARA By Nino Kudekati tubuhnya yang duduk menikmati elusan angin sore, selalu kudapati dia sedang menikmati kesendirian berlayar di samudra tak bertepian, mencari sesuatu yang selama ini tidak bisa ia pandang dengan sempurna, hanya siluet samar yang selalu berhasil di gambar oleh kedua sorot matanya, seperti mengambang dengan rengkuhan lemah seolah menggapai sesuatu yang hilang,walau bibirnya selalu menyunggingkan senyum, sebuah senyum kepasrahan.
( bias sinaran dari lentera biru, menyala, menyentuh mata bathinmu, membuka cakrawala dunia dengan kecantikan yang terpancar,walau dunia sepertinya tidak selalu sama dengan alam pikiran dan sgala sentuhan yang engkau rasa, sekali lagi, bibir bibirmu menyungging senyum masih dengan sorot yang mengawang kosong,namun senyummu tetap sempurna sayang )
Ia selalu marah bila aku berusaha merangkul dan menggandeng tangan berjalan beriringan, wajahnya segera menoleh walau tatapan mata itu selalu meleset kearahku, tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali, melepaskan tangannya dan membiarkan dia menjejaki langkah-langkah kakinya dengan gamang, seperti tanpa arah dan tujuan. “ Kent..! kenapa sih kamu selalu berlebihan saat bersamaku? Kawatir aku tidak bisa seperti mereka?” begitu kami menelusuri kebun teh ucapannya meluncur begitu saja. “ siapa bilang? aku sama sekali ndak berlebihan kok?” selaku menampik ucapannya dan bicara dengan nada bercanda. “ sudahlah Kent! Jangan bercanda, aku tau kok, ndak usa berpura-pura!” “ Sungguh Shinta, aku dak berlebihan terhadap kamu, perlakuanku sama dengan yang lain,tidak ada beda” jawabku dengan nada sedikit ditekan, bukan marah, hanya ingin agar apa yang aku lakukan kepadanya tidak membuatnya merasa tersinggung dan meremehkannya.
Aku tau Shinta, engkau tidak ingin dianggap lemah dan tak punya arti,bukan itu sayang, hanya saja engkau akan selalu membutuhkan seseorang yang sangat mengerti engkau, dan aku disini untukmu, untuk menemani jalanmu yang tak berwujud, tak ada cahaya, hanya hitam yang terus engkau bawa kemanapun kakimu melangkah, aku disini untukmu sayang.
( pusara berpalung kelabu,tanpa warna jingga dan tanpa rona merah mencumbui waktumu tanpa percuma, gerimis tengah hari semburatkan lembayung tergantung di awan hatimu yang bergejolak menahan rasa getir berpayung gelap, engkau masih dapat tersenyum dengan sangat indah )
“ doorrrrr….apa kabar cantik?” kataku mengagetkan kesendiriannya. “ kenapa sih Kent selalu begitu? Bisa gak kalo datang gak ngagetin kayak gitu?” rajuknya menahan keki,aku tergelak kecil melihat polahnya kemudian mengacak rambut poninya. “ hehehehe…biarin aku suka kok!” ”tapi aku gak suka!” balasnya makin ngambek. “iya deh…lain waktu gak akan begitu, nih aku bawakan sesuatu buatmu” kataku seraya menaruh boneka teddy bear diatas pangkuannya. Kali ini reaksinya berbeda dengan yang sudah-sudah setiap kali aku memberinya sesuatu dia pasti terlihat senang dengan senyum yang mengambang indah.. Dia diam,tak menyentuh sedikitpun. “ kenapa Shinta, kamu gak suka?” Shinta menggeleng, membuatku semakin heran dengan sikapnya yang tidak biasa ini.
( sorot itu semakin sendu, kehampaan semakin terasa,terpekurlah ia didalam kekosongan jiwa, lelahkah engkau meniti hari dengan tanpa keindahan dan selalu sama serta itu-itu saja?, rasakanlah sayang,kesejukan setitik air di pancuran di bawah bukit senja, pandang lembayung dunia walau itu tak seperti engkau lihat, aku disini untukmu )
“ percuma Kent,buat apa kamu memberiku segalanya,tapi aku tidak dapat melihat wujudnya..” nada suaranya terdengar getir, matanya masih mengambang dalam kesedihan butiran kristal sudah mengalir di ujung matanya. “ bahkan aku tidak tau bentuk wajahmu!” aku tercekat mendengar kata-katanya kemudian bersimpuh didepannya,berusaha menenangkan gundah yang sedang melanda bathinnya. “ apa itu penting shinta? Aku ada untukmu bukan ingin kamu melihat wujudku” ku genggam tangannya, memandang sorot matanya yang telah basah oleh air mata. ” Kent, apa kamu bisa merasakan apa yang aku rasa?” tanya shinta, aku diam sesaat. “tidak kan?!!,aku benci dengan diriku Kent! Kenapa aku tidak bisa melihat seperti kamu? Kenapa aku tidak bisa merasakan keindahan-keindahan seperti ceritamu? Kenapa Kent?” Bahu gadis itu berguncang naik turun. Kudekap dia dengan penuh kasih,membelai pipinya yang basah dan mengecup keningnya sangat perlahan. “ Shinta, jangan benci takdirmu seperti ini, karena itu aku disini untukmu, untuk menjagamu,” bisikku ke telinganya. “ aku capek Kent, dengan kegelapan ini..” dia berucap lemah. “ ssssttt…sayang, jadikan ini sebagai anugrahmu, karena engkau tidak akan pernah melihat kotornya kehidupan ini sesungguhnya, kehidupan yang tidak sepenuhnya indah, biarkan mata hatimu yang melihat dunia dengan nuranimu,” bisikku dan mencium keningnya sekali lagi.
“ jangan tinggalkan aku Kent!” pintanya. “ Iya sayang, aku disini untukmu” kataku lagi.mengusap rambutnya dan membenamkan wajahnya didadaku, biarkan hati kita yang bicara.
Pandaan 23 Juni 2008
SHYMPONY TERPAGUT SEPI By Nino Mataku mengawang di langit-langit, alunan lembut irama malam tak mampu melenakan dan memejamkan kelopak yang tergantung diatas ranting, aku berguling sepi, mencoba merengkuh cinta yang meretas seiring waktu tanpa jelas,tanpa jawaban atas semua yang telah terjadi.
( benarkah ini sebuah dilema?atau ketidak berdayaanku pada jalan yang aku lalui? Sungguh aku tak bisa melepaskan apa yang telah terjadi dan mengurungku disini,disebuah ruang sepi tanpa belaian kasih yang selayaknya aku terima seperti dambaan wanita lain? Sungguh beruntung mereka dibanding aku )
“ aku iri padamu Min, kamu selalu kelihatan bahagia” kataku kepada Mimin ketika wanita desa itu memijit punggungku dengan pelan. “ ah biasa aja kok bu, ya begini ini kehidupan orang kampung seperti saya, kalo mau bahagia ya kudu nrimo” jawabnya sambil tersenyum. “ ya, aku dapat melihat itu, engkau dihadapkan hanya pada satu pilihan dan itu tentu tidak sulit buatmu” kataku lagi. “ maksud ibu?” jawab Mimin, menghentikan pijitannya “ kamu punya suami yang baik hati dan mau mengerti keadaanmu” “ ah biasa aja kok bu, kebetulan memang suami saya itu orangnya baik,dan ndak neko-neko”
( bisakah aku seperti Mimin? Memiliki seutuhnya cinta yang memang sudah menjadi hakku? Tanpa ada belahan cinta yang lain? Mungkinkah? ) komposisi Mozart sinfonia concertante K364 menusuk nuansa sepi yang terpojok disudut kegamanangan akan cerita panjang yang belum terlewati.
terjebak dalam rangkaian kata indah, meruntuhkan kebeningan jiwa, dan merelakan kepolosan itu terjamah, dengan sangat sempurna, tanpa terduga sebelumnya,ataukah aku saja yang merasa bodoh dengan buaian kata-kata sribu janji? Untuk apa menyesali kebodohan yang terlanjur membasahi tubuh. Sementara aku bukanlah wanita sempurna.
“ Min..apa yang kamu rasakan bila suamimu ternyata selingkuh?” kataku lagi sambil menolehkan kepala ke arah mimin yang masih memijiti punggungku. “ wah ibu ini tanya kok yang aneh-aneh,yang aku gak ngerti jawabnya” kelakar mimin tertawa kecil. “ anggap saja suamimu kawin lagi?” mendengar ucapan tersebut,sontak mimin terdiam sesaat. “ yo ndak mau toh bu, masa saya disejajarkan dengan perempuan lain? Yo jelas saya ndak pengen diduakan” jawab mimin lagi. “ pasti kamu sakit hati ya? Sudah dihianati?” “ ya iya donk bu, meskipun saya bodoh,dan dak punya pendidikan,tapi saya punya harga diri, saya ndak mau perasaan saya dilecehkan” katanya polos. “katanya kudu nrimo min?’ selorohku. “wah kalo masalah itu jelas saya ndak nrimo bu, saya sambangi perempuan yang sudah merebut suami saya, biar saya beri pelajaran,supaya tidak lagi merebut suami orang”
Sekarang aku yang terdiam mendengar ucapannya. Kamu benar min,siapapun orangnya pasti dia takkan rela bila dimadu, aku menelan ludah sungguh posisi wanita seperti aku sangat tidak mengenakkan. Predikat sebagai perebut suami orang, perempuan jalang, dan masih banyak lagi sumpah serapah untuk wanita sepertiku. Sungguh bukan keinginanku menjadi seperti ini, merebut suami wanita lain. Aku hanyalah wanita biasa yang tak bisa berbuat apa-apa ketika cengkramnya merasuk sukma penuh kata-kata indah, aku terlena dengan bujuk rayunya. Aku tau pada akhirnya aku akan terhempas.
( mencoba melepaskan sisa-sisa jeratan disukma yang sepi,merengkuh impian yang lain, menyulam streaming yang sobek, menaburi benih kasih dengan cinta yang lain, cinta yang sesungguhnya, masih bisakah aku )
7 tahun sudah aku menutupi keadaan ini kepada keluargaku, juga kepada mimin wanita desa yang setia menemani malamku yang terpagut sepi, aku katakan padanya bila suamiku selalu tugas keluar kota setiap kali mimin bertanya tentang keberadaan suamiku yang jarang dirumah.
“ maaf bu,apa ibu ndak kesepian ditinggal bapak lama-lama?” aku segera membalikkan separuh badanku dan menopang kepala dengan tangan menghadap kearahnya begitu pertanyaan mimin meluncur begitu saja. “ tentu saja aku kesepian min, itulah sebabnya aku menyibukkan diri dengan banyak kegiatan untuk mengusir jenuh sambil menunggu bapak pulang” jawabku datar, menarik nafas yang tertunda,dan melemparkan pandanganku kesudut,memandangi lumat bingkai kehidupanku yang tak sempurna. “ kenapa ndak minta bapak,supaya dak usah sering-sering keluar kota bu,biar ibu ndak kesepian?”. Aku tersenyum getir, tak menjawab kata-katanya.
( bila saja semua itu berjalan mudah,pigura dalam labuhan hatiku tentu akan sempurna min, tidak perlu lagi mematuk sendiri,memagut sepi, aku akan jadi wanita beruntung sepertimu )
Sinfonia concertante Mozart terdengar di coda terakhir, beberapa saat lagi gesekan biola dan instrument akan segera berakhir.
Sungguh aku tak bisa, melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, aku terjebak dalam kebimbangan…maafkan aku telah menjadi wanita kedua untuk suamimu..
Pandaan 21 Juni 2008
 | ROWINA | Jun 18, '08 12:26 AM for everyone |
ROWINA By Nino Saat aku dapati dirinya, dia menggigil hebat,gemeretak giginya terdengar keras,mengalahkan jeritannya yang tertahan, keringat dingin sudah membasahi tubuhnya, segera kudekap dengan selimut kasihku,membenamkan tubuhnya kedalam ruang cinta, bertahanlah sayang…ini tidak akan berlangsung lama..
( satu garis hitam telah mewarnai cerahnya harimu, menggumpal seperti awan, menjauhkan kesendirianmu semakin terpuruk, pecahlah kaca, berhambur ke penjuru arah, untuk kemudian hening, tak ada yang melewati jalan sepimu, hanya aku, aku yang selalu menemani kesendirianmu disini,diatas perdu kasih yang takkan pernah habis )
Tanganmu masih meronta liar mencoba melepaskan sakit yang menusuk ulu hatimu, bagai genderang kencang yang ditabuh,degap jantungmu kian tak sempurna iramanya. Ku peluk masih dengan segenap jiwa, mencoba menenangkannya yang kalap, walau kata-kata kotor untukku terlontar tanpa sadar dari mulutnya, aku tetap tak bergeming meski rasa iba menderaku,aku berusaha untuk tidak melepaskannya,apalagi memberi racun yang di minta olehnya..
“ Bertahanlah sayang, ini takkan lama” bujukku untuk menenangkan sikap liarnya. “ aku dak kuat Bram, lepaskan aku, berikan benda itu” pintanya memelas “ sssstttttt….bersabarlah!” “ sialan kamu Bram! Bajingan,setan!!! Lepaskan aku, cepat berikan barang itu!!” rontanya penuh makian, justru membuat dekapanku semakin kuat menekan tubuhnya. Walau kepalan tinjunya berkali-kali mendarat diwajah dan bibirku yang mulai berdarah,aku coba bertahan meredakan liarnya.
( sepatu putih itu sudah penuh lumpur,warnanya sudah tak seputih pertama, jejaknya sudah membekas hitam bersemayam dialam, sisi-sisi sepatu itu telah robek,oleh kakinya yang memberontak pada keadaan seiring sumpah serapahnya )
siapa yang bisa menduga Rowina yang aku kenal baik dan pendiam sudah merubah sosok dan jalan hidupnya, dia telah larut dan tenggelam dalam dunia fatamorgana, berhayal dengan ilusi absurd dan mengasingkan diri dari rengkuhan serta uluran orang-orang disekitarnya. Ada apa denganmu Rowina? Bila himpitan masalah menyesak dan mendorong benak menjadi alasan utama, kenapa harus menutup layar hidup dengan tanganmu sendiri? Tidak sadarkah engkau,bila itu akan membunuh semua nadi dan menghentikan aliran darahmu? Lambat laun kamu akan menjadi sosok hidup tanpa jiwa,dengan pupil mata yang mengawang?
“ kenapa kamu masih bertahan Bram? Kenapa kamu masih mau bersamaku?” katanya waktu itu ketika kami menghabiskan sisa malam di sebuah kaki bukit trawas menanti fajar yang kan menuntun matahari. “ entahlah..Win…perasaanku selalu berkata untuk tidak pergi dari kehidupanmu!” “aku sudah tidak punya kehidupan Bram, kamu tau sendirikan? Kehidupanku sudah hilang,aku hanyalah Rowina malang yang menunggu ajal” desisnya pelan,wajahnya yang pucat tidak mampu menutupi kecantikannya. Aku beringsut dari sisi pintu mobil dan menaikan tubuhku diatas kap,sambil menghembuskan asap rokok. “ kenapa kamu selalu menutup harapanmu dengan rasa pesimis? Jangan salahkan dirimu yang telah memilih jalan hidup seperti itu, tapi berusahalah untuk mengendalikan kemudi jiwamu agar berbalik ke samudra yang terang win, bukan samudra gelap yang menyesatkan perahumu?”
( dia diam memagut sepi, rambutnya terburai dicengkram angin fajar, kuhisap lagi rokokku yang tinggal sisa,kemudian melemparkannya jauh kedalam ngarai kecil didepan.)
Dan sekarang, kamu masih terpenjara dengan duniamu sendiri, tanpa teman yang sanggup mengerti, bila jiwamu telah lelah berkelana dan ingin kembali, meskipun itu acapkali di tentang oleh pikiranmu yang lain. Aku tetap disini Rowina,bersamamu menunggu pagi yang akan mengantarkan matahari tersenyum hangat kepadamu, kepada kita,kepada dunia, jangan pupuskan keinginanmu untuk melihatnya pagi ini.
“ Bram..!” panggilnya lirih,membuka mata dan mencari wajahku. “ ya Wina..” balasku tersenyum, begitu dia berhasil melewati masa untuk terlepas dari ruang gelap yang menyeret pikirannya untuk lari lebih ke dalam lagi. “ terima kasih,kamu selalu menjagaku!” katanya lagi.suaranya terdengar datar, kepalanya masih terbaring diatas kakiku, aku mengusap rambutnya penuh kasih. “ Iya Rowina…aku akan menemanimu melewati masa-masa sulitmu percayalah” “ harusnya kamu membiarkan aku Bram!” diangkatnya wajah pucat tirus itu menghadapku, jemarinya memainkan ujung kuku. “ tidak Wina..aku peduli denganmu, takkan kubiarkan hitam itu bersemayam abadi dalam hidupmu, aku akan membuangnya untukmu..” kataku sambil mengelus keningnya yang berkeringat.
( apapun yang telah terlewati, tetap saja sebuah warna yang tak mungkin terhapus, biarkan warna itu menjadi bagian dari langkahmu Wina, sejuta warna masih ada untuk hidupmu yang baru, jangan biarkan kosong, lukislah dengan warna itu penuh cinta dan peduli akan hidupmu, bangunkan jiwamu, aku akan mengubur masa hitammu, percayalah Rowina )
Pandaan 18 Juni 2008
SEPOTONG KASIH UNTUK RARA By Nino Kami berjalan bersisian menapaki jalan berkerikil, nafas yang terengah jelas terdengar dari mulut mungilnya,aku tersenyum melihat tingkah lucunya, apalagi sal yang melingkar dilehernya yang kecil membuat dia semakin cantik saja, kelopak matanya yang sipit tidak pernah lepas memandang hamparan bukit barisan. Ku gandeng tanganya dengan bersenandung lagu yang biasanya…sementara pagi sudah tak berkabut, langitpun tampak cerah, jemari mentari telah pula menjamah tubuh kami yang menikmati aroma pagi dengan keharuman udara perbukitan.
( barisan bangau yang terbang beriringan membelah angkasa,menunjuk pada satu arah akan kemurnian hidup yang terus membentang dan tak ragu menghampiri setiap senyawa yang hidup dalam dunianya…)
begitu mendekati tanah datar dengan rumput yang hijau, engkau segera berlari dan membentangkan tangan dengan senangnya, ah sungguh bahagianya dirimu saat ini sayang, aku tak sanggup melihat tingkahmu yang membuatku selalu merasa kehilangan, bila dirimu tidak ada disisiku…aku diam sesaat dan sengaja membiarkannya bermain dengan ilalang dan rumput yang tak bosan menyambut kedatanganmu, kedatangan kita. engkau menggapaikan tangan memanggilku untuk segera bersatu, tentu saja tak kuasa aku tolak sayang, akupun berlari kearahmu,dengan gelak bahagia, rentang tanganmu terbuka lebar menyambut tubuhku, begitu aku ada dalam pelukanmu kitapun berguling penuh suka cita, aku lumat wajahnya,dan kudaratkan sebuah kecupan penuh kerinduan.
( Seringai burung pipit yang hinggap diranting cemara tak mampu mengalihkan layar cerita yang terkembang, kicaunya berusaha menerobos cela pagi dan mengusik keindahannya, walau perahu itu sudah tak bernahkoda tetap saja berlayar menembus serpihan-serpihan riak ombak ditaburi bintang dan dipayungi bulan yang sendiri ,sendiri bukan berarti sepi )
Kita telah sampai di pondok huma kita sayang, rasa kehilanganku semakin pekat saja, huma yang selalu menjadi tempat pelampiasan kerinduan kita, yang selalu bersedia menampung keluh kesah setelah beberapa masa tak bersua.
“ Ma…Minggu depan Rara gak bisa temui mama..!” katanya masih bergayut manja dilenganku.kutolehkan wajahku kearahnya berusaha tersenyum. “iya Rara, mama sudah tau..” jawabku datar. “ Papa sudah kasih tau Mama ya?” Tanya Rara polos. Aku mengangguk pelan.kemudian memeluknya erak seperti tidak ingin berpisah terlalu lama dengannya. “ Iya sayang…Papamu sudah kasih tau mama, kamu hati-hati ya?”pesanku menyolek hidungnya. “ Rara sebenarnya gak mau ikut papa, Rara pengen sama mama saja”( Ah..Rara seandainya Papamu tau, betapa ingin mama selalu dekat denganmu sayang.) “ kan masih banyak waktu buat kita sayang…” ciumku lagi.
( kain sutra bersulam benang cinta,semakin pudar warnanya tersimpan dhati yang telah tergores Jenggala, tak bisa menahan perih,tak mampu pula meratap pada malam,pada kebodohan atau pada ketak berdayaan akan apa yang telah tertuturkan pada selembar kain berbingkai mahligai )
“ Ma..kenapa sih papa sama mama jauhan?” matanya mencari tau jawaban di kelopakku yang lelah. Ah Rara..mama harus bilang apa sayang.. “ mama dan papa ingin sedikit ruang pribadi sayang…, mama harap Rara ngerti ya…” jawabku sambil membetulkan sal dan jaketnya. “iya tapi kenapa harus begitu ma?” aku diam, engkau belum saatnya mengerti sayang, kelak seiring bunga mangga dihuma kita berkembang engkau pasti akan mengerti. “ karena mama dan papa pengen seperti itu..,sudahlah yang penting Rara gak kehilangan mama kan? Rara bisa terus ketemu sama mama kapan saja Rara mau?” hiburku. Dia tersenyum dan memelukku. “ tapi jangan lama-lama ya ma jauhannya?” aku tersenyum dan mencium pipinya.
( Pagi ini,pagi yang kesekian kita menghabiskan waktu di pondok kecil kita sayang, di sebuah huma di bukit barisan yang menyimpan segala keluh kesahku tanpa dirimu gadis kecilku…)
Lambaian tangan Rara seperti pilu yang mendera hari-hariku selama beberapa minggu mendatang. kubalas lambaian tangannya yang semakin menghilang ketika mobil mantan Suamiku membawanya pulang, Mama akan merindukanmu lagi Rara, pasti!.
Pandaan 17 Juni 2008
EMAK BAREK ( penambang perahu ) By Nino Aku dapati senyumnya segera mengembang begitu aku naik diatas perahunya, dengan topi caping dan pakaian khasnya wanita itu menyambutku. wajahnya selalu tampak ceria walau usia telah merenggut separuh hidupnya, dia tetap ramah menyambut orang-orang yang datang dan naik diatas perahu yang akan membawa mereka menyeberang sungai kalianak sebagai jalan pintas bagiku dan orang-orang yang hendak pergi ke pusat kota. Wanita paruh baya tersebut dengan setia mengantarkan setiap penumpang yang naik keperahunya dengan gembira. Mak Barek,itulah namanya, wanita yang aku tau tinggal sendirian tidak begitu jauh dari bantaran sungai dan perahu tambang tempat ia menghabiskan waktunya.
( riak gelombang sungai itu terpecah dengan gemulai begitu perahu melaju memecah keruhnya jalan hidup seorang mak Barek, tiada keluh kesah yang terucap dari bibirnya yang selalu mengunyah sirih, bagai mata bianglala, nyala hidupnya )
“ apa kabar mak?” kataku begitu naik diatas perahunya. “ baik-baik saja nak Ayu’ jawabnya. Aku tersipu,mbak Barek selalu memanggilku nak Ayu. “ mak sudah sarapan belum?” “ mak hari ini ndak masak nak Ayu, tidak ada yang dimasak,uang simpanan mak sudah habis” jawabnya lagi. “ biar mak Nyirih saja,” sambung mak Barek mengunyah daun sirihnya. Bathinku terasa teriris mendengar ucapan tanpa beban yang keluar dari wanita tua itu, sungguh sangat sulit menjalani kehidupan ini seorang diri. tanpa suami dan anak-anak.
( guratan di kening semakin bertambah seiring dentang waktu ditabuh oleh deraan hidup yang semakin menghimpit dada, daun-daun sirih pun tak mampu mengatasi luka perih yang telah menjadi koreng dalam kegamangan jiwa dan kesunyian hati, tak ada lagi diharapkan kecuali berpasrah diri dan menjalani waktu yang tersisa di atas sungai kalianak yang sudah tak jernih )
Betapa laranya mak Barek yang berusaha merengkuh sisa-sisa nafas dalam ketuaannya yang sendiri, dengan tinggal di sebuah rumah petak yang tak ada kamarnya, berlampu sentir, berkasur tipis dan kain selambu yang selalu melindungi dirinya dari serangan nyamuk dan udara dingin yang menerobos dari cela dinding papan. “ mak sudah dak ada suami nak Ayu, suami mak sudah meninggal 15 tahun yang lalu” kata mak Barek menjawab pertanyaanku tentang keluarganya saat kami menunggu penumpang lain. “ anak-anak mak?” “ anak mak meninggal sakit waktu masih kecil dulu”
Ya Allah begitu berat beban dan cobaan Engkau limpahkan kepada wanita tua yang tidak pernah mengeluh ini, masih adakah kebahagiaan akan Engkau berikan Ya Allah…Aku makin miris mendengar cerita mak Barek. “ mak dak pengen pulang ke kampung?” kataku dengan nada lirih menahan sesak dengan ceritanya. “ dak!, mak pulang ke siapa? Lha wong mak sudah ndak punya siapa-siapa dikampung?” mak Barek tersenyum sangat iklhas, ya Gusti begitu putihnya hati mak Barek ini, matanya yang cekung dengan pupil bergaris menggambarkan pengembaraan hidupnya yang terasing.
( musim demi musim bertalu rindu, mencoba mengetuk pintu kebahagiaan yang tertutup rapat seperti bungkahan batu hitam keras,dan tak bersinar, jiwanya tak lelah berkelana, mengembara mencari kabahagiaan abadiMu, Surgalah tempatmu berada )
pagi ini dengan membawa bekal yang aku siapkan untuk mak Barek,aku berangkat lebih pagi agar dia bisa sarapan masakan yang sengaja aku buat buat dirinya. Namun begitu sampai di tempat perahu tambang,aku tidak mendapat mak Barek, diatas perahu seorang laki-laki dengan topi caping sedang duduk menghisap sebatang rokok. “ Pak! Mak Bareknya kemana ya?”kataku bertanya. “mak Barek katanya sakit mbak, sudah 3 hari ini” jawab laki-laki itu. Jantungku langsung berdesir kencang mendengar keadaan mak Barek. “ sakit apa pak?” akupun berlalu menuju rumah petaknya.
"katanya penyakitnya kambuh" sambung laki-laki itu
( lelahkah jiwanya mengembara? Letihkah sayapnya merepih, tipisnya halimun masih saja mengaburkan jalan yang mendera, sunyi…kini semakin sunyi…)
aku dapati tubuh mak Barek terbujur lemas diatas tempat tidur, mencoba menahan batuknya yang mendesak hendak keluar. “ asma mak kambuh” katanya pelan,kemudian batuk lagi. “ kita kerumah sakit ya mak!” pintaku. Mak Barek berdehem kecil dan menggeleng lemah. “tadi sudah ke puskesmas kok nak Ayu” “ sudahlah mak jangan merasa gak enak sama aku ya, aku pengen mak sembuh, setelah itu mak mau kan tinggal ditempat yang baru? Ditempat dimana mak tidak akan sendiri?” tawarku lagi.memijit pundaknya pelan. “ maaf mak, aku sudah mendaftarkan mak di panti jompo Tali kasih, biar mak ada yang merawat dan gak perlu susah-susah cari uang jadi penambang perahu” aku mulai terisak bertutur,tak kuasa menahan iba yang mendalam akan hidupnya. “ mak mau kan menganggap aku anak mak?” kataku lagi. Mak Barek menoleh dengan mata berkaca,mata tua itu menghujam hatiku lumat-lumat kemudian memelukku erat.
( daun-daun sirih masih terjuntai dimainkan angin, dibuai impian baru yang datang menjemput ketika senja hendak beranjak pergi )
Pandaan 15 Juni 2008
IMPIAN TAK SEINDAH PURNAMA By Nino Paruh Waktu sudah terbias saat sengatan disertai belaian bayu meronakan wajahku yang diam memandang hamparan kisah 3 tahun silam..Sepi..Tak terdengar lagi riuh nyanyian ombak yang dirayu burung camar tuk segera bercengkrama..ilalang ilalang yang dulu selalu menyertai gemulainya kakimu menari memainkan sebuah irama sudah mengering sejak lama sayang...
( rengkuhmu lunglai begitu jemari lemahmu mencoba memelukku dari rasa dingin yang menyapu wajah dan menutupi tubuhku fajar itu, fajar terakhir kita )
3 tahun yang lalu,Bias dan aura wajahmu masih sangat segar, sorot mata yang tajam bak rajawali, dan rengkuhan lengannmu bak kepak sayap Elang selalu aku rindukan, jemarimu yang senantiasa menari dipipiku ketika butir air bening mengalir dari mataku.. “ Jean, jangan menangis bila harapan itu tidak sempurna sayang” pelukmu rasanya takkan kulepaskan saat itu. “ indahnya hanya sementara, engkau harus siap menerima dan menghadapinya sendiri kelak” aku tengadah menatap wajahnya yang cekung dan pupil mata itu terlihat sangat lelah. “ tapi aku selalu ingin bersamamu Bima..bersama masa kita dulu dan nanti” kataku lirih masih dalam pelukannya. “ bila rajawali itu merepih alam,menembus awan hitam dia takkan kembali menemui indahnya cinta yang telah dia dapati Jean, mengertilah sayang, setiap pertunjukan pasti akan selesai” “aku tidak ingin pertunjukan Bima, aku ingin cerita yang sesungguhnya “ Engkau tersenyum masih dengan bibirmu yang tirus, kemudian membelai rambutku lembut,membenamkan laraku ke hamparan sunyi paling dalam…
( 3 tahun tanpamu membiarkan nyala lilin disudut hati redup dan akhirnya mati sendiri, warnanya pudar dan lenyap tertelan gelap. segelap hari hari yang engkau jalani 2 tahun sebelum 3 tahun aku sepi kehilanganmu..) Ternyata hidup selalu berakhir tak sempurna sayang...dan aku sadari itu, jauh sebelum aku mengenalmu dan menggantungkan impian impian yang aku sendiri tidak tau berbentuk apa nantinya..tapi sekarang?..aku sudah mengerti bentuk dari semua impian itu sayang, impian yang sepi dan tak sempurna karena engkau tak lagi ada.
Pandaan 14 Juni 2008

JEJAK YANG TERTINGGAL By Nino Aku berdiri di depan gerbong ketiga seperti yang tertulis di karcis kereta yang akan membawaku pulang, sore baru saja beranjak pergi, malam sudah menjelang, setelah beberapa jam menunggu tadi akhirnya tiba juga kereta yang kunanti, dari jauh gemuruh mesinnya terdengar begitu masuk dilintasan 2 di stasiun kecil ini. Sekian lama ku tinggalkan stasiun ini tidak banyak berubah, seolah masih menyisakan kenangan-kenangan masa lalu. 15 tahun aku meninggalkan kota kecil yang telah membesarkan jiwaku dengan setia, meski secuil luka tlah tergores di dinding sekolah,namun tetap saja tak membuatku lupa.
( menarilah bidadari dengan riangnya, menelusuri koridor-koridor kenangan, sayapnya seakan mengembara mengembalikan aku ke titik balik dimasa dulu, ribang sekali, benakku tenggelam dalam kenangan masa belia )
Aku tak tau perasaan apa yang aku rasakan sekarang ini, saat hati kecilku berbisik mengajakku kembali menelusuri jejak-jejak kenangan di Lahat. kota kelahiranku. Ataukah hatiku lagi ingin membuka kembali kisah lama yang telah tersimpan sekian lama dalam bilik jiwaku, aku merasa seakan hatiku sedang menuntunku menemukan kembali sesuatu yang hilang dulu, tapi apa? Akupun tak tau.
( diatas jembatan gantung yang membelah sungai lematang,aku berdiri mematung, dan membiarkan gerakannya naik turun, tentu saja sudah tidak menakutiku sekarang. Tiba-tiba saja saat itu aku langsung ingat Firman, teman sekolah yang banyak mencuri hati para gadis belia di sekolah dulu, Ah..apa kabarnya dia Sekarang? Masihkah dia tinggal disini? Aku tersenyum sendiri menyadari tidak ada jawaban yang sempat terlontar dibenakku tadi…ah benar-benar bodoh,tentu saja dia sudah tidak ada di kota ini )
Setelah mendapati nomor tempat duduk,aku segera menghempaskan pantatku diatas bangku gerbong, dan membuang pandanganku keluar jendela, sebelum menutup jendela kenangan untuk terakhir kalinya. 7 hari sudah aku mengikuti kata hatiku menelusuri kisi-kisi dan jendela kenangan di kota ini,namun aku tak jua menemukan sulaman indah sosok yang menjadi kenangan. Begitu kereta bergerak perlahan meninggalkan Stasiun, sepasang mata sedari aku naik tadi selalu mengamatiku . Aku tau itu,karena sikapnya dapat aku baca,apalagi ketika aku menangkap ekor matanya yang melihat kearahku dengan sedikit aneh. Aku diam seolah tidak tau, biarkan saja, selama dia tidak menggangguku pikirku.
( bias sang lembayung memudar ketika hujan telah berhenti, jamahan surya menyentuh ujung daun yang berembun, menyejukkan rasa yang sempat mati rasa menunggu wajahnya mendekati harumnya bunga )
“ maaf anda suka membaca novel Cinta tak berujung?” tanya laki-laki yang didepanku tadi. Begitu aku mulai membuka novel lama yang sengaja aku bawa untuk menemani mencari jejak yang tertinggal dulu. Aku mengangguk tanpa senyum. “ novel ini sudah lama sekali, sudah sulit pula mendapatkannya” katanya lagi. “ ini pemberian seorang kawan lama saya” kataku menimpali komentarnya. “ Ooo…” Aku menyeringai melihat polahnya, kemudian sibuk kembali dengan novel yang kubaca. ( pikiranku segera menggambar wajah Firman, dari dialah aku mendapatkan Novel ini, untuk menginggat masa sekolah katanya, agar novel ini bisa membawaku kembali begitu katanya dulu , “bawalah ini Amanda, aku ingin novel ini membawamu pulang bila engkau meninggalkan kota ini” ucapan firman masih aku hapal hingga sekarang )
“ sayang penerbit sudah tidak menerbitkan lagi novel ini, padahal aku ingin sekali memilikinya” “ Ooo..” aku sengaja menirukan ucapannya. Laki-laki tersebut tersenyum kecil, seperti tidak enak hati. “ Maaf bila anda tidak berkeberatan boleh saya pinjam untuk saya salin?” katanya. “ untuk apa?” tanyaku pula. “ tidak untuk apa-apa, hanya saja aku punya sejarah dengan novel itu” Bibirku membentuk huruf O,lalu melipat ujung kertas sebagai tanda aku membaca.lalu menyodorkan kepadanya. Novel Cinta tak Berujung memang sangat populer dimasa sekolahku dulu, tidak heran bila novel itu laris manis.
( kidung pagi menimbulkan aroma wangi menyeruak menembus udara yang dingin, perjalanan panjang yang cukup melelahkan, sepanjang perjalanan pula aku banyak menghabiskan waktuku dengan tidur, aku ingin segera sampai dirumah dan memeluk Nada dengan manja,dan menciumi pipinya )
waktu sudah mendekati subuh,sebentar lagi kereta akan sampai, guncangan kecil dipundak membangunkan aku dari lelap, samar wajah laki-laki itu tepat berada di hadapanku, aku menggeliat perlahan,sedikit malu.
“ Sudah hampir sampai “ katanya. Aku mengangguk pelan dan membetulkan letak tubuhku. “ ini Novelnya…” dia menyodorkan Novel itu kepadaku. “ ternyata Novel ini benar-benar telah membawanya kembali” katanya lagi. “ maaf maksud anda?” tanyaku heran. Dia tersenyum dan tak menjawab pertanyaanku. hanya sorot matanya membuatku tak mengerti. “ nama yang ada dibalik cover novel itu yang membawamu kembali kemasa lalu kan?” aku tersenyum simpul begitu dia menyebutkan nama dibalik cover novel itu.
( merapatlah hati ini,pada dinding rasa, tanpa belenggu,tanpa paksa, hanya keindahan yang terlihat dari sini dari kenangan cinta yang dini )
Begitu turun dari gerbong aku masih sempat menangkap lewat ekor mataku,laki-laki itu berdiri beberapa saat memandang kepergianku dengan senyumnya, aneh saja rasanya…kenapa dia tersenyum? Entahlah… Pandaan 13 Juni 2008
KENANGAN YANG TERBUANG By Nino
Bocah-bocah itu semburat berlari begitu petasan berbunyi memecah sore menjelang magrib disebuah tanah lapang dengan hamparan rumput hijau membentang. Tawa canda mereka jelas dapat di dengar oleh wandot, laki-laki kecil yang sedari tadi memperhatikan tingkah polah teman sepermainannya itu diatas bongkahan batu berjarak 100 meter dari mereka. Kemudian segerombolan anak-anak itupun melangkah pulang setelah bermain bola.
( sepertinya banyu yang mengalir dari cela tanah merah sudah tak sejernih dulu,masa tlah berganti menggiring unggas bermain dengan dirinya sendiri karena hamparan padang tlah tak ada )
setiap sore tanah lapang berumput hijau itu menjadi tempat bermain anak-anak kampung di pinggiran kota, seperti biasa pula wandot pasti tertinggal menghabiskan sore bersama teman-teman kampungnya itu karena harus menggiring sapi-sapi milik juragan Amir. Dia memandang masgul karena selalu terlambat, sementara teman-temannya sudah beranjak hendak pulang setelah bermain sepak bola. “ main bolanya sudah selesai Kri?” tanya wandot ketika sampai disana. “ sudah!” jawab Sukri dengan nafas berkejaran. Wandot menggaruk kepalanya. Sekian sore yang ia kejar tetap saja tak tercapai, dia selalu terlambat.
20 Tahun setelah itu
Wandot menaruh ransel lusuhnya memandang tanah lapang yang sudah tidak lagi hijau. Tanah lapang itu kini menyimpan sejuta keinginan baginya yang begitu rindu dengan masa anak-anak yang tak sempat ia nikmati. Sepi dan becek menyambutnya kembali ke kampung yang telah menjadi bagian masa kecilnya itu.
( andai saja hidup mau sedikit berpihak kepada dirinya dan keluarganya,tentu dia akan merasakan sedikit kebahagiaan bermain bola bersama teman kampungnya, namun apa daya waktu telah merengut langkahnya, merebut perlahan sampai jengah tak tersisa, tapi dia tak ingin menyalahkan bapak atau emak yang miskin )
“ biar Wandot saja mak yang nganggon sapi pak Amir, gantiin bapak” katanya begitu tau maksud bapak yang akan pergi ke kota menjadi buruh bangunan. “ habis sekolah aku bisa angon sapi-sapi pak Amir” sambung wandot lagi.
( harapan mengais drajat yang sedikit lebih tinggi pun tinggallah asa yang terbuang manakala bapak terjatuh dari atas bangunan dan harus kehilangan satu kakinya, sekali lagi kehidupan telah mencuri hari-harinya secara perlahan dan menyakitkan )
amarah bergemuruh dalam dada, Wandot kecil mengepalkan tangannya meninju sombongnya hidup yang tak mau mendekatinya. Diseret kakinya menapaki jalan penuh comberan dan kubangan lumpur, Wandot semakin tak perduli, hatinya telah benar-benar hitam, hingga melepaskan nuraninya begitu saja akibat belitan ekonomi yang menyesakkan dan sungguh tidak mengenakkan.
Wandot tlah berubah menjadi penjagal, penjagal kehidupan orang-orang kaya yang tidak menyisakan gelimang harta mereka untuk kaum seperti dia. Warna darahnya berubah hitam. Hingga satu ketika, 3 buah timah bersarang di paha dan dadanya, melumpuhkan amarah dendamnya dan memasung jiwa agar sajadahnya kembali bersih.
“ Wan, apa yang kita dapet ini,merupakan angurah dari Gusti Allah, jadi ojo nyesel, kalo uripmu koyo ngene?, “ ucapan Bapak memenuhi otaknya yang terpenjara. “ jalani hidup itu dengan sabar, jangan merugikan diri sendiri maupun orang lain, semua ini sudah diatur oleh Gusti Allah, kamu harus percaya itu” kata bapak yang hari-harinya hanya bisa dia habiskan diatas kursi dan tempat tidur. Wandot kecil diam,tak mengangguk. Namun yang jelas tekadnya untuk ke kota sudah tergambar nyata.( maafkan aku pak, aku tak sanggup melihat lalat mencumbui luka hidup kita )
Kini setelah kebebasannya Wandot kembali pulang, menemui masa kecilnya dulu yang terbuang, memandang tanah lapang, saksi bisu masa anak-anaknya yang hilang…
( Smilir angin berhembus membawa dendang kehidupan, menghampiri ilalang kering yang menjuntai disela padang rumput, mengisi kekosongan ruang-ruang yang terlewati dulu 20 tahun yang lalu )
biarlah masa kecilnya hilang percuma, asal aku bisa kembali mengulangnya, Wandot melangkah lagi, menaruh Ransel dipunggung dan berjalan pulang, dia ingin menanami masa lalunya dengan butiran-butiran kebaikan dari bekal yang dia peroleh di pesantren dan dunia liar yang sempat ia jalani.
Pandaan 10 Juni 2008
By Nino
Malam telah kembali datang, sapuan keemasan terhampar di tepi sungai Musi, sebiduk kita menyebrang tanpa kata,tanpa sayang yang seharusnya telah ku teguk dalam kerinduan beradu dengan percik air Musi yang dingin malam itu Bulan, masih tersimpan lukisan kita di canvas hidupku.
( tujuh purnama berlalu merobek dinding jiwa terpuruk di dingin malam, lelah jiwa berkelana memagut sepi ditepian sungai Musi sendiri mengantar matahari berharap cerita itu kembali Bulan )
Bimbang dalam diri kian menjalar diderunya hempasan riak gelombang yang datang saat aku kembali menuju rumahku, rumahmu, rumah kita. Tidak ada yang menyambut kepulanganku, aku tau itu.
( lembar demi lembar kisahku terbakar dalam gelisah, mengikis rasa yang tak pernah terlupa, hitam hati tlah menjadi nyanyian sunyi sang jelaga yang terhempas dalam ketidak berdayaan begitu matanya menusuk tepat di jantung dengan amarah bercampur isak tertahan, engkau pun berlari begitu pintu hati tlah berubah hitam dari setitik noda, engkau mencoba menghilang Bulan,merobek catatan kaki waktu tentang sajak-sajak indah dewi cinta…Ah…aku kian merana )
kehidupan terus berganti seperti langkah kaki sang waktu,bagai riak gelombang menghempas pantai,keras dan kejam, aku tau semuanya menjadi suratan yang telah digariskan, dan takkan mungkin lagi aku menghindar walau kaki terus berlari…maafkan aku Bulan..
“ maafkan aku Bulan, aku tlah menorehkan luka” aku tak kuasa menghadapimu saat itu, jelas aku sangat tak berarti dimatamu. “ untuk apa kamu lakukan itu Surya?” jengahmu telah menjadi timbunan batu dalam dadaku. “ Entah aku sendiri tak tau,kenapa aku lakukan semua ini maafkan aku Bulan akan kosongnya jiwaku setelah sekian lama tidak berada didekatmu” diammu membuatku seperti di silet sembilu, perih tak tertahan.. “ Surya, aku tak pernah menuntutmu berlebihan padaku kan?” aku dapat rasakan dadanya mulai sesak menahan air mata yang hendak tumpah.
( sribu mlam yang berlalu teras sepi tanpamu Bulan, sejuta bintang masih tak mampu menerangi ruang yang tlah kosong sejak kepergianmu berlalu tanpa kata, menggantunglah jiwa ini di dera kesunyian yang merayap perlahan,sangat perlahan )
masihkah engkau membenciku Bulan? Menyimpan amarahmu? Dan menghapus aku dari hidup dan malam-malammu? Aku ingin pulang Bulan, kembali kerumah kita, masih maukah engkau menerima?
“ Pergilah dengannya bila kamu merasa hatimu disana” isakmu lirih terdengar,berkacalah mata indah itu, tengadah sesaat pada malam yang kelam dan menghujam bumi yang diam. “ cerita kita sudah takkan lagi sama Surya, tidak akan sama…” ulangnya berdesis seperti gumam yang tertahan. “ Bulan..aku..aku!” gagapku membuatmu menggeleng dan membuang wajah sedihmu diatas sungai Musi. “ Sudahlah lupakan aku, lupakan rumah kita” Engkau berlari menembus perih,menginjak semak berduri yang telah aku tanam di tulusnya hatimu..
( Biduk itu terdampar sendiri ditepian sungai Musi, hening sunyi semakin sepi, biduk yang membawa butiran-butiran pasir cinta kita..)
Aku diam di depan Pagar tanaman rumah kita, berdiri mematung, menatap dirimu yang menjumputi rumput liar yang banyak tumbuh dihalaman rumah kita…
“ Bulan….” Pelan aku berucap tanpa irama. Engkaupun Menoleh, diam ber |
|