Kau tergelak ketika aku sadar bila aku tlah salah masuk ruangan kelas , barisan gigimu yang putih sengaja kau pamerkan dengan sorot yang begitu mempesona, Damn...Sungguh aku langsung Jatuh cinta..
( wajahmu pun langsung tenggelam dalam dasar hati bersemayam tenang ).
Entah sudah berapa lama kau nikmati ketololanku saat itu, aku hanya bisa menyeringai malu dan tidak enak hati. Sejurus kemudian kau tawarkan sebuah coklat persahabatan.
( Akupun tersenyum dan meraih wajahmu lebih dalam lagi ).
Kau Tau? terus terang aku masih ragu saat itu,apakah itu memang sebuah tawaran atau hanya sebuah bayaran untuk kecerobohanku, tapi aku senang kau lakukan itu.
( lampu mercuri dari mercusuar di tengah laut yang dingin itu telah kembali menyala ).
Begitu matahari mulai redup,kita ayunkan sepeda menelusuri jalan aspal di sudut pantai kota kecil diujung pulau Belitung.
( burung camarpun mengiringi nyanyian hati berdendang suka cita ).
Renyah kau senandungkan nyanyian cinta dengan iringan ombak bersinggasana putih yang biasa jadi tempat kita bermain dan memburu " kijing ".
( Pantai semakin membenamkan harapanku ).
Sayang, dinding dinding hari sudah tidak mampu menahan debur dan dentuman hasratku tuk senantiasa memainkan busur dan panah cinta amor serta menari dalam detak irama jantungmu. Namun siluet yang terselubung halimun berpendar pekat, selalu menghalangi keinginanku tuk sampaikan rasa dan pada akhirnya hanyalah menjadi sebuah pertanda saja, entah kenapa aku tak mampu tuk melakukan itu..dan yang bisa aku lakukan hanyalah menikmati indahnya wajahmu dalam belaian malam dan senandung bulan sayang...
( dirimu kian jauh terbang ).
Kamu Tau Sayang? aku baru saja menemukan catatan catatan kecil yang dulu selalu aku lukis dalam benakku yg paling dalam, dan aku coba menguasnya kembali dalam kesendirian di bibir dermaga tempat dulu kita menabur kisah kisah kita?
( Symphony lambaian perdu perlahan mengalun mengikuti sajak sajak tapak tertinggal ).
Entah dimana aku bisa menemukan gelak pertamamu kembali, apakah masih kau ayunkan sepedamu dengan riang dan mengubur sgala dukaku? berpacu dengan derai rambutmu dan nyanyian laut? tentang sebuah kisah kecil di sebuah kota pantai di ujung pulau Belitung.
Sayang...ini ke sejuta bait ku tabur di sisi dermaga cinta yang sepi,meski Engkau tak lagi ada..namun bayangan wajahmu kan selalu tergambar di tenangnya laut di setiap senja berkabut.
( Senja kian berkabut sampai gelap menyapa dan bulan kembali bermain dalam kesepiannya ).