That's What Friends Are For

Blog EntryMEMBELI MIMPIApr 16, '08 12:48 AM
for everyone

“ Klik “ Sulai mematikan TV 14 inch  dengan menggerutu tidak karuan.” Lho kok dimatikan?” tanya Harjo yang sedari tadi memang sudah siap didepan TV dengan secangkir kopi pahit dan sepiring singkong rebus, nampaknya dia sudah tidak sabar untuk menonton kelanjutan sinetron kesayangannya itu.
” Sinetron gituan aja kok di tonton, itu semua bohong !!” kata Sulai masih mengumpat.
” Ayo nyalakan!” perintah Harjo, Sulai tak bergeming,diam ditempat
” kamu itu Jo..Jo, otakmu itu  sudah terkontaminasi impian impian kosong dari tayangan yang jelas jelas tidak mendidik!” sambung Sulai.
” Biarin, suka suka aku donk ah!” gerutu Harjo,kemudian menyalakan rokok kreteknya.
“ itu
kan Cuma pikiranmu saja toh?” sambungnya lagi.

 Sulai tidak habis mengerti kenapa orang orang sekarang, terlebih Harjo karibnya dari kampung itu gampang sekali dijejali dengan tayangan yang jauh dari realita sebenarnya. Apa karena orang orang memang lebih memilih bermimpi ketimbang melihat dengan nurani?
” apa yang kamu dapat dari nonton sinetron kacangan gitu? “
 “ Elho!! meskipun kacangan tapi
kan laris manis? Ratingnya tinggi lagi?”
”hahahaha..Harjo Harjo sejak kapan kamu tau rating? wong baca aja kamu itu sulit kok!”
 “ wela dalah…jangan gitu Lai? Aku tau dari kang Karman yang jualan koran di prapatan lampu merah itu lho? Yang katanya Sinetron yang di bintangi Bunga bakung semerbak mewangi itu ratingnya tinggi!” kilah Harjo tidak mau kalah.
” Iya.. Rating itu Opo? “ tanya Sulai lagi.
” Emboh!”
 “ hehehehe..Harjo harjo kamu itu lho, mbok yo jangan asal njeplak saja kalo ngomong?, dipikir dulu,kalo kamu ndak ngerti artinya?” Sulai mendorong jidat Harjo.
” Memangnya kamu tau?”
 “ aku? “
“ He’e?”
 “ Yo ndak!”
 “ kamu itu lho,wong juga tidak tau gitu kok balik tanya?”
 “ Yo jelas tau Jo..jo, Rating itu peringkat?”
 “ Peringkat?”
 “ nah lho masih ndak ngerti toh? “ Harjo mesem kecut.
” Peringkat itu sama dengan tingkatan paling banyak, nah sinetron yang di bintangi Bunga bakung semerbak mewangi itu ditonton lebih banyak dari sinetron lain, ngerti?” corocos Sulai,sambil menyambar sinkong rebus dan langsung memakannya. Harjo mengangguk.
” Jangan jangan kamu suka ya dengan Si Bunga Bakung itu?” selidik Sulai,
” kenapa? Emang ndak boleh apa?”
 “ yang bilang ndak boleh itu siapa? Ya boleh saja asal sesuai dengan keadaannya?, lha kalo kamu? “
 “ E..eh, siapa tau? ”
“ Mimpimu kok makin tinggi aja Jo..jo..!, Mbok yo ngaca? Kamu itu siapa?”
 “ aku yo Harjo!” jawabnya Mantap.
Sulai tertawa terpingkal pingkal dengan keluguan sahabatnya tersebut.”
Kok kamu ketawa Lai? Memangnya aku salah?”
  “ ndak kamu dak salah, Cuma kalo ini bener bener terjadi,ya tentu saja si Bunga itu yang salah..”
 “ Maksud te? “
 “ Ya salah memilih kamu!! Ha ha ha…” . “ sompret!! Sembarangan aja”  Harjo meringis dongkol .
” Sudahlah lebih baik kita ngamen lagi saja,ketimbang nonton tayangan mimpi mimpi itu,” usul Sulai menyambar gitar yang tergantung di dinding papan kos kosan mereka.”
Ndak mau! aku mau Nonton Bunga Bakung dulu!”
 “ kalo kita ndak ngamen lagi,trus nanti malem kita mo makan apa? belum lagi bu Darmi tadi pagi sudah nagih uang kos, !” jelas Sulai sambil menyetem senar gitarnya.
” Sebentar Lai..
kan sayang kalo ndak nonton lanjutan kemarin?”
 “ kalo kita ndak dapet uang ya terpaksa TV kesayanganmu itu kita gadaikan atau dijual!”
“ enak aja! Ini TV hasil kerja keras kok mau dijual?”
 “ lha terus Piye?”
 “ Lai..ini TV satu satunya hiburan kita ya toh?,meskipun ndak baru tapi ini selalu jadi obat penenang kepenatan kita toh?”
“ ya ya..aku tau, meskipun TV bekas, kamu sangat sayang banget dengan TV itu, kalo sampe terjual berarti sama saja menjual mimpimu toh?” kata Sulai cuwek. Harjo nyengir kuda, Sulai melet menjulurkan lidahnya.

 Meski rada dongkol akhirnya Sulai menuruti keinginan Harjo untuk nonton TV, kalo dia ngamen sendiri rasanya gak asyik banget, karena selama ini mereka sudah terbiasa ngamen berduet.Dia dengan Gitar dan harjo dengan ukulelenya. “ Klik” TV hitam putih itu menyala lagi. Harjo dengan tenang menonton artis pujaannya tersebut tanpa berkedip.

                                                                         ***********

Siang itu udara panas sekali, tidak henti hentinya Sulai dan Harjo mengusap keringat yang bercucuran di dahi mereka, berjalan menenteng perlengkapan kerja ( Gitar dan Ukulele ) tersengat panas matahari sudah  menjadi bagian dari kehidupan mereka, pekerjaan mengamen bukan pekerjaan hina kata mereka, bukan pula karena mereka malas untuk mencari kerja yang lebih pantas, mendapatkan pekerjaan sekarang ini  adalah sesuatu yang sangat langka , dan itu hanyalah segelintir mimpi dua sahabat tersebut. Andai pekerjaan tidak membutuhkan Ijazah atau gelar ah hidup pasti akan lebih menyenangkan.

 Tapi hidup di negri antah berantah ini, semua itu mutlak harus ada, dan itu sangat meruntuhkan cita cita mereka menjadi orang kaya.
“ udah ndak usah berangan angan jadi kaya, cukup bermimpi jadi kaya saja!” kata Sulai saat mereka sedang istirahat dibawah jembatan di perempatan lampu merah.
” Kenapa yah orang seperti kita ndak bisa meraih mimpi jadi nyata?”
 “ kamu memang punya mimpi apa? “
 “ aku mimpi jadi orang kaya, rumah mewah,pembantu 5, mobil 3, dan punya istri cantik, secantik Bunga Bakung pujaanku!” jawab Harjo pelan bersandar di tembok jembatan layang.
” Untungnya Cuma mimpi..!,” timpal Sulai.
” Mimpi yang tak terbeli” sambungnya lagi seraya menyanyikan lagu Iwan fals.
Harjo menelan ludah, matanya redup sesaat, kantuk mulai menyerangnya. tidak lamapun Harjo terlelap dalam mimpinya.

 Hidup di jaman sekarang tak hanya mengejar mimpi, apalagi di kota besar di negri antah berantah ini, tentu membutuhkan semangat juang yang sangat besar untuk bisa bertahan dari deraan serta kelicikan kota dimana semua orang menggapai mimpi mimpi mereka dengan segala cara, sampai harga diripun bisa digadai atau dijual demi mimpi bisa hidup enak di kota besar. Kota seolah menjanjikan surga dunia, tidak heran banyak Kaum Urban berbondong bondong  datang cumbui angan  datang dengan sejuta mimpi termasuk Sulai dan Harjo yang dulu menggantungkan  harapan di kota ini.
Tapi apa mau dikata, mereka tidak punya keahlian apa apa, ijazahpun tak ada, apa yang harus diharapkan dan digantungkan? Maka dari itu Sulai tidak pernah berani bermimpi jadi orang kaya. Sekali lagi Cuma dalam mimpi.

                                                                     *********

Seperti waktu yang sudah sudah,setiap 3 kali naik turun Bis, Sulai dan Harjo istirahat sejenak di tempat favorite mereka, sebuah Taman dekat lampu merah, setelah membeli nasi bungkus diwarung Mbok Atun di bawah jembatan layang, mereka menyantap nasi itu dengan sangat lahap dan nikmat.Harjo dengan hikmat menelan nasi suap demi suap, meski dengan lauk ikan asin dan sambel tempe campur pete  tidak mengurangi kenikmatan mereka dalam mensyukuri apa yang telah mereka dapat hari ini. 5 tahun waktu yang cukup lama untuk bisa bertahan di ganasnya kota besar antah berantah ini, toh meski dengan berjuang susah payah rasa nikmat itu tetap setia bersama mereka.walau kadang godaan Impian hidup seperti kisah sinetron acap kali menggoda hati mereka.
Tapi sudahlah bukankah hidup mereka lebih bahagia seperti ini, walau masa depan belum tergambar dengan pasti? toh hidup tak selamanya akan selalu seperti ini terus , itulah keyakian Sulai dan Harjo, nikmati dan ikuti kemana jalan hidup yang Tuhan bawakan untuk mereka.

“ Brak!!!” suara benda terbentur terdengar keras sekali tidak jauh dari mereka. Sulai dan Harjo spontan meloncat kaget dan langsung mencari arah suara itu. Tidak jauh dari mereka sebuah sedan mewah menabrak pohon tepat di pinggir jalan.
Dengan sigap mereka berlari dan mencoba menolong pengemudi yang sial itu. Harjo segera membuka pintu depan, begitu terbuka dia terkesiap dan terperangah takjub,tanpa berkedip, mulutnya terbuka.nafasnya terasa sesak, matanya tidak lepas dari sosok dihadapannya itu. Sulai heran” kenapa Jo, orang nya luka parah atau Mati ya?” Harjo masih diam gemetaran.

Belum habis penasaran di benak Sulai sosok dalam mobil tersebut keluar dengan terhuyung. seorang gadis?! bathin Sulai.
“ Lai..iii…ni..
kan Si Bu..bunga Bakung?” kata Harjo tersendat tak percaya.
  Masa?”
 “ Iya Lai, gadis pujaanku Lai..”
 “ ayo cepat kita tolong Dia,” Harjo dengan sigap meraih bahu gadis tersebut agar tidak terjatuh,keningnya berdarah terbentur stir mobil untung lukanya tidak begitu parah. Tapi niat Harjo tersebut segera ditepis gadis cantik itu

 “ Hei..Hei..apa apa ini?...jangan sentuh, Kotor Tau?!!” bentak Bunga Bakung Semerbak Mewangi. Harjo kaget begitupun Sulai, tidak menyadari ucapan kasar gadis yang hendak mereka tolong itu.
” Kalian itu siapa? Aku tidak butuh pertolongan kalian, Kalian mau memerasku
kan?” cercahnya. Sulai dan Harjo saling Pandang.
” Ma..af Mbak kita Cuma mau nolong aja kok,!” jawab Harjo pelan,
Ala..sekarang ini mana ada menolong tanpa pamrih, sudah sana, mana badan kalian bau lagi!” Sulai dan Harjo mencium baju dan ketiak mereka,
Uh! Sombong sekali ini manusia, masih untung ada yang mau nolong eh ini malah dituduh yg tidak tidak.
“ maaf ! mbak namanya Bunga Bakung Semerbak Mewangi artis sinetron itu ya?” Tanya harjo lagi
” kalo Iya kenapa?, mau coba memeras saya? Karena saya artis terkenal? Iya?“
  “ E..endak Kok Mbak kita mau menolong aja” ulang Harjo lagi
 “ menolong?” Bunga memandangi Harjo dan Sulai dari Ujung kepala sampai Kaki.
“ saya sudah tau niat kalian.. saya sudah sering melihat pemerasan seperti ini,! Sudah
sana pergi! Kalau tidak saya akan telpon Polisi!” ancam Bunga Bakung, kemudian mengambil tisue dari dalam Tasnya.
“ Dasar Gembel!!” makinya lagi.

“ kenapa ya Lai..masih ada saja orang yang menaruh curiga pada orang yang niatnya menolong dengan tulus?” kata Harjo ketika sudah berada beberapa meter dari kejadian tersebut.
” Tau! Mungkin yang menolong orang kere seperti kita. Jadi dia gak mau? Mungkin dianggapnya kita mau berbuat jahat !”
  “ kenapa ya..orang selalu saja melihat dari luarnya saja?”  Sulai mengangguk tak menjawab. “ Lai..ternyata kita juga harus membeli mimpi, biar harga diri dan jati diri kita tidak terbeli..” ucap harjo lagi
. “ Iya Jo, kadang hidup bermimpi juga ada baiknya, biar kita tetap semangat dan ndak menyerah dengan keadaan.”
 “ jadi kamu juga mau bermimpi?” tanya harjo. Sulai mengangguk.
” Aku mau bermimpi hidup lebih baik dari sekarang ini Jo” Harjo merangkul sahabat karibnya tersebut, mereka kembali ketempat peristirahatan mereka.
Tidak lama kemudian mereka mendengar suara  seorang gadis menjerit minta tolong, jelas sekali. Sulai dan Harjo pun menoleh, dilihatnya Bunga Bakung semerbak mewangi itu berlari ketakutan di kejar beberapa sosok berbadan besar sambil menghunus pisau. Pastilah dia di rampok. begitu pikir mereka berdua. Sulai dan Harjo kembali saling pandang.dan melanjutkan langkah mereka.
“ gimana kalo sekarang kita pulang saja dan Nonton sinetron kesayanganmu Jo?” tawar Sulai begitu mereka sampai di tempat semula dan memungut gitarnya.
” Nonton?”
“ Iya “
 “ aku sudah ndak tertarik Lai, lebih baik kita kerja saja, biar kita bisa beli impian kita!, lagipula aku sudah dak cinta sama si Bunga!” jawab Harjo santai. Sulai tertawa renyah memecah Siang yang panas .

Pandaan 14 Maret 2008


18 CommentsChronological   Reverse   Threaded
roedey wrote on Apr 16
Untuk Semua Sahabat..
Maaf...karena kekeliruan dalam mengedit, komen sahabat jadi terhapus...
thank's semoga ndak bosan melongok ladang kecil ini..
salam..
agripzzz wrote on Apr 16
Aku sudah pernah baca, Om! Nice...
roebyarto wrote on Apr 16
Seharusnya tadi harjo "dilihatnya Bunga Bakung semerbak mewangi itu berlari ketakutan di kejar beberapa sosok berbadan besar sambil menghunus pisau" menjadi pahlawan biar mimpinya terbeli...! bagian ini mas aku suka ........! siiip... baca lagi gak apa kan lin...?
suarahujan wrote on Apr 16
namanya juga mimpì..hehehe
roedey wrote on Apr 16
yoi Av..komenmu kehaous maap ye..
roedey wrote on Apr 16
ya mas...monggo..hehehe..
roedey wrote on Apr 16
yaaa..mimpi kadang melenakan...
oier wrote on Apr 16
kayak na saya juga pernah baca yang ini kan Mas...
nah loh... editnya jangan di......... (ulangi yangpernah mas nino bilang ke cinta)
di idem ajah ya...
hehehee...
roedey wrote on Apr 16
Iya..Cinta..
tadinya mo ngedit eh malah ke delete..
oke dikembalikan ke posisi awal ya.. siiip!
allyamnoor wrote on Apr 16
mimpi,,,,,oh mimpi,,,,
roedey wrote on May 20
bermimpi untuk menebar semangat menjalani hidup g papa to Ay?
alyntfernandes wrote on May 20
hehe gitulah kalau kenyataan hidup berat, kita lari ke mimpi ya..
roedey wrote on May 20
iya..sedikit berkhayal hehehe..
annilasyiva wrote on May 20
roedey said
“ Lai..ternyata kita juga harus membeli mimpi, biar harga diri dan jati diri kita tidak terbeli..” ucap harjo lagi. “ Iya Jo, kadang hidup bermimpi juga ada baiknya, biar kita tetap semangat dan ndak menyerah dengan keadaan.” “ jadi kamu juga mau bermimpi?” tanya harjo. Sulai mengangguk.” Aku mau bermimpi hidup lebih baik dari sekarang ini Jo” Harjo merangkul sahabat karibnya tersebut, mereka kembali ketempat peristirahatan mereka.
I Have a dream
saya suka bagian ini

hidup terkadang seperti sebuah lautan mimpi
dimana kita harus mempunya kail dan umpan yang pas untuk mendapatkan ikan mimpi yang kita punya
walo terkadang tak semuanya sempurna dan sesuai harapan..tapi dengan bermimpi..paling tidak kita punya perahu yang akan mengantar kita ke pulau impian :D
roedey wrote on May 20
good Dewi...ya begitulah yang kita inginkan...
annilasyiva wrote on May 20
ah..cerita yang ini benar-benar menggugah
segar pada awal pembuka, dan mengena di akhir cerita
seep...
prasfoucault2 wrote on May 26
Sudah pernah dikirim ke media massa ? rasanya baik sih kan menegaskan juga kalau bermimpi terhadap televisi nggak selamanya salah, tetapi kalau terjerumus dalam dunia sinetron bahaya juga memang :-)
roedey wrote on May 26
belum..masih tersimpan di ruang baca..thank's uda mampir mas pras..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help