By. Nino
( apa yang akan aku utarakan ini sungguhlah tidak sepatutnya aku kabarkan kepadamu sayang )
Bersemulah wajahmu merona merah dadu dengan derai tawa riang berjalan dititian batu disebuah sungai kecil yang terletak diantara ridang pohon berbuah hati.
( rentang waktu terus melambai menggapai sore yang sepi )
tidak ada kata yang engkau lontarkan begitu engkau dan aku berada di sebuah muara kecil, bola matamu hanya memandang takjud sembari melambaikan tangan meraih wujudku yang berhembus lembut disekitarmu.
( Sungguh, aku hanya bisa tercekat dengan polahmu saat ini, jenggalapun tak sanggup tuk melukai hatimu yang bening itu )
lalu harus bagaimanakah aku terhadapmu sayang? Bila ada dendang camar berlabuh di pelabuhan kecil kita mencemburui keasyikan kita bercengkrama dengan rona senja.
Dan kini Engkau masih disana,memperhatikan setiap gerak kupu kupu terbang, kian kemari dengan warna tubuhnya yang indah.
( tiba tiba saja jengah ini semakin terbuka lebar, dan aku semakin tersudut dengan permainan waktu yang membelah kemurnian kasih ini menjadi retak tertusuk ilalang dan tembus ke dinding transfaran hatimu )
“ apa yang engkau pikirkan Bayu?”
aku berusaha tersenyum meski kali ini terasa terpaksa,karena aku tak tega akanmu
“ tidakkah hari ini sangat berarti?” bisikmu penuh dengan kesejukan dan rasa cinta yang mampu merobek kelaki lakianku.
“ setiap hari selalu berarti sayang” Senyummu segera mengembang dan memelukku dari belakang.
“ bahagiakah kamu bila bersamaku?”
“tentu saja cantik! Aku disini untukmu kan?”
sorot mata yang bening dan indah itupun berubah redup seolah mendung dengan tiba tiba datang dan menghujamkan hujan yang sangat lebat. Engkau diam tepat di sebuah bongkahan batu besar di sisi sungai dimana aku berdiri memandangimu setelah pelukanmu engkau lepaskan.
( liukan tarian kupu kupu semakin lemah tak berdaya, kepak sayapnya yang mungilpun semakin sulit digerakkan dan akhirnya terjatuh tepat diatas bunga mawar )
Matamu mulai basah, ah! Engkau menangis sayang? Ada apakah gerangan ini?
“ maafkan aku Bayu….aku tlah memberikan sepotong hatiku untuk yang lain “ meski kata kata yang keluar dari bibirmu terasa tercekat dan samar ,namun sangat jelas aku dengar.
Amarah membuncah namun tertahan dengan erangan tersendat, aku kini benar benar diam menutup mata dan membuang keraguan yang selama ini membumbung menjadi gunung di hatiku.
“ kenapa kamu tidak marah?” tanyamu pula.
Aku menggeleng dan beranjak mendekat lalu duduk dibatu disebelah kanannya.
“ tidak! Aku tidak marah mengetahui apa yang engkau katakan barusan “
“kenapa? Pasti kamu tidak sayang padaku ya?”
( Ah..Angin kini berhembus perlahan membelai pucuk pucuk daun lamtorogung )
“ tidak perlu engkau ragukan rasa sayangku padamu”
“lalu kenapa aku tidak melihat ekspresi wajahmu begitu aku katakan hal itu?”
“ karena aku tau, Engkau lakukan itu karena terlalu mencintaiku” jawabku pelan tanpa berpaling ke arah wajahnya yang mulai sembab oleh air mata.
( sebenarnya inilah yang juga ingin aku katakan padamu sayang, betapa cintanya aku padamu,sampai aku kalah dengan keyakinanku sendiri bahwa kehilanganmu akan sangat menyakitkan, aku pun mulai membagi cintaku untuknya seseorang selain dirimu..)
hening berkelebat diantara kita, segera kupeluk rindumu dan membenamkan ke dalam dadaku…
membiarkan kerinduan kita menari di dalam kegamangan hati kita masing masing.