
By Nino
Waktu Hujan baru aja turun, seringainya tertahan, seolah resah yang tertanam dalam kelopak mata hatinya tak pernah surut..
( segera canvas kau bentang, cat minyak telah pula kau siapkan tuk menggambar langit yang tak lagi biru sedari pagi..kemudian engkau jumput setitik air yang tertinggal di pucuk daun akasia )
Kau tercenung tak bergeming,diantara seribu bayang masa lalu yang menyeret kakimu tuk berada disini, ditemaram,disudut sepi...manakala semburat hujan menjamah ujung sepatumu yang menari dengan irama yang dingin ketika hujan belum berhenti beberapa saat yang lalu.
( perlahan goresan ujung kuasmu bicara, lembut dan syahdu bermain di landasan kain berbilur tipis dari keinginan yang semakin menghimpit perasaan akan dia yang kini selalu mencuri perhatianmu ketika engkau tlah kehilangan tawa dan nyanyian bidadari cinta 10 tahun lalu )
Ketika kelopak engkau kedipkan dengan irama senda gurau yang biasa engkau mainkan, membuatku sedikit jengah..Mungkinkah engkau kan mainkan lagi nyanyian dedaunan saat kibas sayap hari tlah merangkak membumbung tinggi..di Ketinggian Hatimu, di kekosongan dan ketegaran hasratmu tuk terus mengais harapan dan impian tentang masa depan...
( sengaumu pun meracau membelah bumi, teriakan yang kian gamang,dan pancaran mata yang remang meruntuhkan ibaku akanmu dewiku..)
hidup terus berganti sayang, biarkan masa masa itu terlewati, tersenyumlah dengan jiwa yang lapang, tariklah kuasmu menari, membelah kanvas yang putih, lalu gantunglah ia dalam keabadian hatimu...
( Kau panggil namanya sekali lagi, kemudian terpejam dan tersenyum menyambut kehadirannya dalam benak berpagar rindu tebal dan berumput kasih yang tak pernah habis )
Pandaan 21 mei 2008