By Nino
Sayang bulan sudah kembali berwarna merah jingga, sewindu sudah cerita indahnya menemani kita, berdongeng tentang cinta dan rasa sayang yang tak pernah berubah.
( aku yakin engkau pasti tersenyum,meski kerut yang tergaris tipis dikening dan pipih wajahmu seolah tak mampu mengikis langkah waktu, tak mengapa toh engkau tetap perkasa dimataku )
Sayang,bulan mengajakku menari, cemburukah engkau? Seperti sejuta malam yang telah terlewati, ketika dia tlah tumbuh sempurna,dia semakin berani mengajakku berdansa saat dirimu sedang tidak menemaniku sekarang dan kemarin.
( Buaian ombak merengkuh masa kita, engkau ayuh sepeda jengki tua itu,kencang dan tertawa melintas jalan tanah setapak diantara yiur melambai seolah merestui keindahan yang tercipta sewindu asmara kita, aku tau mereka akan selalu mengiringi dengan lambaian tersapu bayu saat saat engkau sentuh bibirku dengan lembut )
Sayang, bulan mulai berani menggodaku, tidakkah engkau ragu akan aku? Dia mengatakan padaku tidakkah kau kesepian tanpa dirimu?,tentu saja aku tertawa mendengar kata katanya.
Sayang jangan tinggalkan sebuah tanya ya, bulan hanya sedang menggoda,bukan merayuku tuk melupakanmu, menghapus jejak romansa kita dulu percayalah engkau tetap perkasa dimataku.
( saat matahari rebah di pangkuanku,engkau kalungkan Sal warna coklat muda kesukaanku,kemudian menghembuskan nafas disudut telingaku,memerahkan pipi dan membuatku tersipu dengan kehebatanmu merayuku, saat itu engkau tampak tampan dan tetap perkasa )
sayang, aku sekarang disini duduk dikursi goyang yang engkau hadiahkan saat ulang tahun perkawinan kita 15 tahun silam, sengaja aku letakkan di teras depan rumah cinta kita yang tak pernah aku ubah tata letak isinya. Gambarmu pun masih terpajang di setiap ruangan,agar aku bisa menyapamu ketika aku terbangun setelah mengunjungimu di tempatmu saat ini.
( butiran-butiran embun mulai turun,rengkuhnya seolah merengut ragaku yang semakin dingin, aku pejamkan mata begitu tanganmu mengayunkan kursi goyangku dengan pelan, Ahh…sungguh aku bahagia bersamamu, bersama kenangan kita dulu )
Sayang, bintang tlah menjemput bulan tuk pulang, dia tidak pernah lupa memberikan sejumput kenangan, menyirami edleweis yang kita tanam di depan rumah sebagai tanda keabadian cinta, sentuhannya masih terasa lembut, menentramkan kesepianmu ketika engkau tidak ada disisiku sekarang dan kemarin.
( kepingan piringan hitam berputar lembut, memainkan lagu nostalgia kita, dan aku selalu tak kuasa menolak,begitu engkau mengulurkan tangan mengajakku berdansa dan membiarkan bulan cemburu sendiri disana )
“ Eyang….!! Eyang kok masih disini?” suara renyah membangunkan aku yang sempat terlelap.
“ eyang lagi menikmati bulan berwarna merah jingga sayang” jawabku pada Naila cucuku dan tersenyum simpul pada sosoknya yang mulai beranjak dewasa.
( Sebelum aku masuk,aku masih sempat melirik sepeda tua kita yang di taruh di beranda sebelah kiri dipojok tanaman bugenvile kesukaanmu.)
“ ayoo kita masuk” kataku dan merangkul pundaknya penuh cinta.
( aku yakin engkau pasti tersenyum disana melihatku merindukanmu )
Pandaan 24 Mei 2008