HARD TO SAY I’M SORRY
By Nino
Begitu terdengar intro lagu itu ingatanku langsung pulang ke pertengahan tahun 80an, benakku mulai terseret mundur pada seraut wajah yang hampir terlupakan..Sita! ya nama itu sempat bersemayam lama dalam hatiku, merentangkan rindu yang panjang, membawa angan jauh melayang bersama helai rambut lurusnya yang panjang dan tatapan mata yang sungguh mengoda, dimanakah dia sekarang? Sita Damayanti Siregar…aku masih ingat nama lengkapmu, gadis badung yang cantik, sedikit tomboi dan sangat menawan…
( gending-gending serta tarian jawa yang mengalun beriring dengan gemulai sang penari merambah sore berwarna kuning keemasan..di setiap jalan dan koridor Malioboro, aku ingat betul sore itu aku menelusuri jalan itu sendiri, membawa bayang wajahmu yang cantik, kukantongi semua asa yang tak terungkap, dan rasa yang tak tersentuh oleh jemarimu…)
Malam ini,setelah sekian lama aku tinggalkan Kota yang mempertemukan aku dengannya dulu membawaku kembali, untungnya aku mendapat tugas ini, setidaknya disela kesibukanku aku bisa sedikit meluangkan waktu mencari jejak yang sempat terukir di sini. Jogja ternyata sudah sangat jauh berbeda, aku hampir saja tidak mengenali wajahnya. Sekian waktu ternyata kota ini sudah dewasa, cantik namun terkesan genit, tidak seperti waktu dimasa dulu, jogja dulu terlihat cantik feminim, teduh membuat aku sulit untuk meninggalkannya, terlebih lagi satu nama telah terkubur di hatiku.
( ketika malam menjelang, aku kembali menelusuri Malioboro, masih ramai oleh lalu lalang orang, sehabis meeting tadi sore, aku cepat-cepat kembali ke Hotel karena tidak ingin sedikitpun melewatkan malam yang indah di sepanjang malioboro. Aku ingin membuka dan menulis kembali sejarah saat bertemu denganmu.. betapa bodohnya aku dulu, menyimpan rasa padamu, dan hanya berani memandang kecantikanmu dari jauh, menaruh sesobek puisi di jok motormu dan mengawasinya dari jendela kelas saat engkau heran mendapatkan puisiku diatas jok sepeda motormu…hehehe..maafkan aku Sita..sungguh aku tidak berani waktu itu…)
“ Adit, aku bisa minta tolong gak?” Sita mendekatiku dengan senyum yang selalu mampu meruntuhkan dinding keberanianku.
“ Eh..ya Sit, tolong apa ya?”. Kataku senang ( kamu tau saat itu aku sungguh-sungguh bahagia )
“ titip salam buat Helmy ya..” Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak, sungguh tak aku sangka Sita menyukai Helmy sahabat karibku?
“ eh..iya..ya nanti aku sampein, dia juga pernah tanya soal kamu” kataku berbohong. Dasar bodoh, kenapa aku harus berbohong? Apa karena aku tak kuasa menolak permintaanmu dan sangat ingin membuatmu bahagia…
( sejak engkau dekat dengan Helmy , bathinku makin teriris Sita, tak mengertikah engkau? Rasa cemburu yang bergejolak, manakala engkau dan helmy mesra bercengkrama di kantin sekolah?, tak aku pungkiri memang, Helmy lebih segalanya, siapa yang tak suka dengan ketampanan dan juga gaya hidupnya?, sementara aku hanyalah orang biasa dengan kamar kos yang biasa pula..)
yang lebih menyakitkan kenapa kita harus selalu menghabiskan waktu bertiga? Berat bagiku menyimpan semua itu, seperti waktu tak memberi kesempatan aku untuk melupakanmu dan pergi dari kehidupan kalian, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku juga tak ingin dengan kepergianku diantara kalian menimbulkan sebuah pernyataan…
***
Jam 21.30 aku masih menikmati kesendirianku dimalioboro, kembang trotoar perlahan menutup diri, meninggalkan keramaian, menyambut sepi dibawah payung mercuri, sejenak aku berhenti didepan museum, dan menggambarkan wajah Sita dan Helmy sahabatku, pasti mereka sudah bahagia sekarang.. kuusap bibirku dengan tangan lalu tertunduk pelan, kemudian kembali berjalan menuju Alun-alun… tepat di perempatan jalan, tak sengaja mataku menangkap sosok yang tidak begitu asing, penampilannya, bahkan rambutnya..tanpa ragu aku ikuti sosok itu dari belakang, langkahku makin ku percepat agar dapat menyusulnya. Begitu dekat akupun memanggil namanya.
“ Sita!” kataku setengah berteriak. Wanita yang aku panggil itu tak menoleh,bahkan mempercepat langkahnya. Aku begitu yakin dia itu Sita, tidak mungkin aku salah…ah ternyata dia masih di kota ini, kabar terakhir yang aku tau dia kembali ke jakarta setelah selesai sekolah dulu, benar gak sih itu sita?
Bersambung
( Sorry lagi Bad mood ceritanya kepotong dulu…tar dilanjutin, oya menurut kalian wanita itu baiknya Sita atau bukan ya ? )